Archive for the 'Celoteh' Category

” mencari buku”


            Oleh: Nabhan

Mencari buku bukan berarti mencari sembarang buku. Banyak took-toko buku dikota Kebumen menjual berbagai macam buku. Ada buku tulis, buku pelajaran dan buku-buku yang biasa dinikmati oleh masyarakat Kebumen. Namun yang dimaksud disini adalah buku-buku bacaan tentang sebuah wacana atau buku-buku yang biasa dikonsumsi oleh para pakar intelek. Bukan bermaksud menggurui penulis pernah mengenyam bangku kuliah di Jogjakarta. Bagaimana kehidupan masyarakat jogja tidak bisa dilepaskan dari benda yang bernama buku. Mau cari buku apapun bisa dikatakan sangat mudah.

 Ketika penulis pulang kekota kelahiran, penulis masih mempunyai keingin yang kuat untuk bisa jalan-jalan kesebuah toko buku yang menjual buku bermacam-macam jenis buku seperti di Jogja. Namun hanya beberapa toko saja yang menyediakan buku bacaan untuk bisa dikonsumsi menurut selera penulis. Dan ketika penulis menanyakan tentang buku-buku wacana yang laku di kota Kebumen, penjaga toko itupun tersenyum kecil sambil  mengatakan “kalau buku-buku seperti ini kurang laku”.

Bagaimanapun juga budaya untuk membaca di kota-kota kecil belum terbentuk. Bisa dikatakan kalau hal ini dipengaruhi oleh sebuah lingkungan yang ada. Lingkungan bukan berarti harus melalui banyaknya Perguruan Tinggi atau sekolah-sekolah yang ada,akan tetapi kesadaran terhadap masyarakat akan pentingnya membaca buku harus ditingkatkan. Dengan melalui penyadaran yang kritis terhadap budaya membaca diharapkan memunculkan masyarakat yang kritis terhadap segala perubahan.  

Buku adalah jendela dunia, dengan membaca buku maka kita telah membuka dunia baru. Mungkin begitulah kata orang-orang bijak. Bagaimana ketika bangsa barat begitu ketakutannya akan bangsa-bangsa Arab yang sangat kuat akan tradisi membacanya.sehingga dalam perang salib beribu-beribu buku dihancurkan karena mereka khawatir jika bangsa-bangsa Arab akan menguasai akan sebuah peradaban dunia. Begitu juga ketika memberikan sebuah kado ulang tahun kepada seorang sahabat atau saudara, akan sangat berarti jika kita memberinya sebuah buku. Karena dengan cara seperti itu berarti kita telah mengajarkannya untuk membudayakan membaca buku.

Dengan membaca buku berarti kita telah mendapatkan banyak ilmu yang akan kita peroleh. Masih sedikit sekali budaya memberikan kado ulang tahun, pernikahan dan lain sebagainya dengan memberikan kado sebuah buku.

Kain Sarung Pak Sular

Deneng aku nganggo sarung dewek” (kok saya pakai sarung sendirian) tanya Pak Sular salah satu teman duduknya. Kontan saja wajah Pak Sular agak malu-malu dengan pada hadirin yang berbusana resmi a la kondangan. Mungkin karena merasa paling berbeda penampilan dengan warga lainnya, Pak Sular pun mengambil posisi duduk di dekat pintu keluar balai desa.

Continue reading ‘Kain Sarung Pak Sular’

Terjegal Jadi Calon Lurah Kembaran

Pak Adman Fauzi kesehariannya sebagai perangkat desa. Jabatannya sebagai kaur umum. Kalau warga desa mau membuat KTP, khususnya RT 1, biasanya mereka meminta jasanya agar KTPnya bisa digarap secepatnya. Masyarakat meminta bantuannya mungkin karena dua faktor. Ingin cepat jadi dan membantu perekonomiannya yang tidak seperti perangkat atau pejabat daerah lainnya. Tapi saya lebih percaya yang kedua, karena saya sendiri kalau buat KTP anggarannya saya tambahi yang formalnya Rp. 5000,- saya tambah menjadi 10.000,-. Sisa 5.000 saya niati sebagai tambahan ongkos kesel. Bukan sombong dan bukan nyogok lho… Continue reading ‘Terjegal Jadi Calon Lurah Kembaran’

Hujan Tak Memupuskan Semangat Mereka

Hujan turun hampir sepanjang hari selama akhir pekan lalu (24-26/3). meski hujan deras, ngaji jalan terus. meski jumlah santri yang hadir tak seprti biasanya.
“payung ternyata masih menjadi sahabat yang penting tatkala hujan. kalau musim kemarau sepertinya payung tak ada gunannya”, kata Elok dengan agak malu. Continue reading ‘Hujan Tak Memupuskan Semangat Mereka’

Kiamat Sudah Dekat…!

oleh : rahmat

waktu kecil guru-guru ngaji di desa kami mengajrkan bahwa salah satu tanda-tanda kiamat yaitu antara rumah satu dengan yang lainnya tidak ada ruang angin. artinya tidak ada jarak yang memisahkan alias dempet. Continue reading ‘Kiamat Sudah Dekat…!’

Haruskah Aku Nggak Sekolah?

Oleh : Adlan Kurniawan

Sebutlah Ami. Ia adalah anak pasangan mas Pardi dan Mba Ikoh. Pasangan suami istri tersebut sebenarnya mengasuh anak dari Mas Kacung yang tidak lain adalah kakak kandung mba Ikoh. Mas Kacung sudah lama merantau ke negeri Jiran Malaisya. Sekarang ia sudah menjadi warga negara tersebut. Sebutan Kacung merupakan nama yang sudah akrab dengan masyarakat desa Kembaran. Meski sudah menjadi warga negara Malaisya, nama itu sulit terlupakan dari ruang ingatan warga Kembaran. Continue reading ‘Haruskah Aku Nggak Sekolah?’

Pemutusan Interaksi Sosial a la Mall

oleh : Adlan Kurniawan

Menyikapi pertumbuhan mall-mall di Kebumen, dalam banyak bentuk masyarakat sudah banyak angkat bicara. Berbagai media mereka gunakan. Mulai dari rasan-rasan dengan sesama warga sampai dipublish di media cetak dan elektronik. Sebagian besar statemen warga adalah menolak keberadaan mall-mall tersebut, dikarenakan dalam pandangan mereka mall-mall tersebut merugikan para pedagang kecil di pasar-pasar tradisional. Continue reading ‘Pemutusan Interaksi Sosial a la Mall’