Archive for the 'Berita' Category



Ramai-ramai Lomba Lari Tempurung Kelapa

lari tempurung kelapa“Bu Guru, ini masangnya gimana sich, kok kakiku gak bisa naik tempurungnya” rengek Davi, salah satu santriwati yang mengikuti perlombaan lari tempurung. Berkali-kali kaki mungilnya mencoba menapak pada tempurung kelapa, dijepitnya tali rafia disela-sela jari kakinya sementara tangannya kuat memegang tali yang diikat ditengah batok kelapa itu. Davi adalah salah satu peserta lomba lari tempurung tingkat TK yang diadakan oleh Pesantren Alternatif Al Furqon. Continue reading ‘Ramai-ramai Lomba Lari Tempurung Kelapa’

Advertisements

Reading News Paper

Reading News Papermenu pengajian kali ini (26/3) berbeda dengan hari-hari biasanya. kali ini santri-santri kecil mushola Al Furqon belajar belajar pengetahuan umum dengan membaca koran. koran yang dibaca pun koran untuk anak-anak yang dikumpulkan dari sebuah lembaga swadaya masyarakat yang ada di Kebumen. Lembaga tersebut setiap hari berlangganan koran harian Suara Merdeka. nah, setiap edisi hari minggu, harian tersebut pasti ada suplemen koran untuk anak-anak. Nah, mba Likha selaku ustadzah yang intens mengajar setiap minggu mengumpulkannya. nama koran itu Yunior. sebuah kata yang mungkin sudah tidak asing bagi khalayak. pun demikian bagi anak-anak. Continue reading ‘Reading News Paper’

Dua Anak Kyai Akan Bertarung Dalam Pilkades

Meski masih agak jauh dalam hitungn hari, pelaksanaan Pilkades di Desa Kembaran akan balakalan seru. bagaimana tidak kusak-kusuk dan bisak-bisik masyarakat sudah tersakan. Kabar yang kami peroleh di lapangan mengatakan ada dua calon akan maju. masing-masing Udah dan Ismail. Keduanya tergolong masih belia. Continue reading ‘Dua Anak Kyai Akan Bertarung Dalam Pilkades’

Mengenal Rasulullah Muhammad SAW

picture-173.jpg

minimal satu minggu sekali kegiatan dibai’yah dijadikan rutinan kegiatan santri-santri al Furqon. Tulisan ini sekedar mendeskripsikan kegiatan tersebut. selamat membaca. Continue reading ‘Mengenal Rasulullah Muhammad SAW’

Sang Bilal Itu Mengadu Nasib

Sang bilal itu kini berada di Bogor. Ia menemui saudaranya di yang kebetulan berhasil menjadi bagian developper (pengembang). Dengan tekad yang agak nekad, ia memberanikan diri untuk mengadu nasib dengan cara bergabung dengan sang developper tadi.

Ia akrab dengan panggilan Sam. Sejak kecil ia menempa dirinya belajar mengaji di Mushola Al Furqon yang diasuh oleh pak dhenya. Ia tamat SMK 3 Kebumen sekitar 7 tahun yang lalu. Dalam perjalanan hidupnya ia pernah mengadu nasib merantau ke jakarta. Tapi sayang kala itu dewi fortuna belum menyapanya. Sehingga ia kembali bergabung dengan masyarakat Kembaran.

Pada masa-masa itulah ia dipercaya menjadi bilal pada bulan-bulan ramadhan. Acap kali sholat tarawih tiba, dirinya selalu berada didepan, di belakang imam. Dengan suara yang lantang bak bilal dari timur tengah ia menggugah nurani setiap jamaah untuk bangkit dan khusuk dalam sholat tarawih.

Beberapa hari lalu ia pamit untuk mengadu nasib lagi ke kota besar tersebut. Ia kembali meninggalkan desa dengan segenggam harapan kelak hidupnya akan berubah. secara ekonomi ataupun dewasa dalam mengarungi hidup yang kian tak menentu.

Apa yang ia lakukan sebenarnya merupakan pemberontakan pada sistem kehidupan berbangsa dan bernegara yang tidak adil pada masyarakat desa. Lapangan kerja di kota yang melimpah merayu warga desa untuk berbondong-bondong merantau. Meski melimpah, tapi sistem kerja yang tidak adil tetap menempatkan wong desa sebagai scond class. Ia tetap dipandang sebelah mata, karena orang kota kadung menmpelkan stempel kalau wong desa berSDM rendah.

Apa yang Sam lakukan adalah satu dari ribuan gambar yang terpantul dari cermin kehidupan. Tidak hanya dia yang berjuang menmgadu nasib. Kalau dihitung-hitung mungkin hampir 500 warga Kembaran yang pergi merantau. Jakarta, Pemanukan, Bandung, Bogor,Banten, Bekasi, tangerang, Jogja, sampai Brunai Darussalam dan Malaysia menjadi daerah-daerah yang dipandang paling berpotensi memberi sandaran ekonomi.

Apa yang Sam lakukan tidak lain tergolong tindakan mulia. Ia tidak lagi mempedulikan uluran tangan negara yang telah berjanji kepada rakyatnya -dalam UUD 45- untuk mensejahterakan. Kalau kita lihat implementasi amanat UUD 45 tersebut di tingkat desa masih minim. Pada tingkatan yang lebih tinggi, kabupaten Kebumen belum memberikan jaminan sosial pada warga golongan ekonomi lemah. Ia telah dibohongin negara. Pendidikan yang dikenyamnya selama kurang lebih 16 tahun tidak memberi jaminan kehidupannya dimasa yang akan datang.

Mengamati praktek pembangunan yang dijalankan pemerintah desa Kembaran masih sangat kental pembangunan yang menitikberatkan pada pembangunan infrastruktur semata. dana-dana bantuan yang terplotting melalui program-program PPK dan PKMD, sebagai dua program terakhir ini yang masuk, juga banyak dialirkan pada pembanguna irigasi dan pengaspalan jalan. (adlan)

Belajar Kaligrafi

Belajar Kaligrafi kaligrafi merupakan salah satu identitas seni dalam dunia Islam. ia identik dengan lukisan atau gambar huruf-huruf arab yang indah. secara khusus biasanya kaligrafi bertuliskan ayat-ayat suci al Qur’an atau kata-kata mutiara yang diambil dari hadits nabi Muhammad.

menulis kaligrafi kini menjadi salah satu menu pelajaran di musholla Al furqon. malam kamis (21/2) dengan dipandu ustadzah Muslihah sebagai teman belajar, sekitar 15-an anak-anak usia 6-9 tahun belajar menulis indah kaligrafi. meski tanpa alas (tikar / karpet) mereka dengan tekun belajar corat-coret diatas kertas tulis yang mereka siapkan sebelum sholat maghrib. ada yang menulis sambil tidur, duduk kadang malah ada yang berlarian pinjam pensil dan kertas sana sini. ada yang nyontek. dengan kesederhanaan fasilitas senyum mereka tetap mengembang.
dengan metode sederhana sang ustadzah menuntun mereka dalam menggoreskan pensil. langkah paling dasar, para santri kecil tersebut diajari cara mengasah atau mempertajam pensil dengan cutter . ini penting karena kalau pensilnya majal hasil tulisannya kurang bagus.

yang namanya anak, tentu tidak bisa diterapkan cara mengajar pada orang dewasa. yang namanya anak, ada yang menggambar rumah, mulai menulis dari “alif” sampai “ya”, merangkainya menjadi sebuah kata dalam bahasa arab. inilah menarik, sang ustadzah tidak langsung mengajak anak-anak untuk menuliskan arab. menurut ustadzah yang biasa dipanggil dengan “mba likha” ini aspek yang paling menentukan adalah bagaimana meletakkan memori pada anak-anak. bagaimana memberikan kesan bahwa kaligrafi itu tidak sulit, indah dan bagian dari budaya Islam.(adlan)

Ahmad Tohari : Cara Prihatin Santri Sekarang Ya Membaca

Foto-Foto lain kegiatan peluncuran bisa dilihat disini.

Dalam suasana malam yang berselimutkan hujan rintik-rintik, ratusan orang dari berbagai lapisan dan generasi memadati arena lesehan budaya. Mulai dari anak-anak hingga orang tua dengan sabar menunggu kehadiran nara sumber yang sbelumnya telah berjanji untuk hadir di tengah-tengah mereka.

Mengawali acara tersebut dengan di pandu Manto dan Aji selaku pembawa acara, serentetan parade puisi dan drama menjadi magnet yang menghipnotis para pengunjung. Santri-santri Al Furqon menunjukan kebolehannya menampilkan hasil karyanya baik berupa puisi maupun drama. Dengan kreasi dan imaginasi mereka pertunjukan mereka mendapat sambutan hangat dari warga. Continue reading ‘Ahmad Tohari : Cara Prihatin Santri Sekarang Ya Membaca’