Obrolan Ba’da Tadarus

Setelah tadarus Al-Qur’an selesai sebagian teman-teman masih terlihat duduk santai didepan Mushola. Jhoni, Danang, Huda, Ma’ruf sedang memperbincangkan rangkaian kegiatan dibulan Romadlon dan Idul Fitri. Gelas-gelas kosong tergeletak didepannya. Sementara didalam Mushola terbujur empat orang dengan suara mendengkur salah satunya.

“ Kalau tidak dimulai dari sekarang mau kapan lagi. Ini waktunya sudah mulai mepet”. Kata Huda penuh dengan semangat memulai perbincangan malam itu.  Danang mulai terusik mendengar kalimat itu.

“ Makanya ini segera didata peserta Khotmil Qur’an di Masjid”. Ma’ruf yang berada disampingnya pun ikut menimpali ucapan Huda dan Danang.

“ Makanya didata satu persatu dulu untuk wilayah sekitar sini dulu, baru kemudian orang-orang yang berada di RT lain. wis cepetan didata Nang”. Pinta Ma’ruf kepada Danang. Danang segera membuka buku catatannya. Segera ditulis nama-nama peserta yang ikut Khotmil Qur’an. Suara musik dari telephon genggam terdengar dari dalam Mushola. Rupanya si Udin membiarkan HP nya sambil tertidur. Lagu Regepun terdengar decak.

“ lha ini bagaimana sudah ada yang membayar belum”Tanya Danang kepada Jhoni dan Huda. Merasa tertantang Huda yang lagi punya uang segera mengeluarkan dompet dari dalam saku celananya. Selembar Uang kertas warna merah keluar dari dalam dompetnya. Bukan seratus ribu tapi sepuluh ribu rupiah. Uang pas sesuai dengan iuran perorang untuk membayar Khotmil Qur’an. Maklum, karena Khotmil Qur’an ini bersifat bantingan alias tidak ada sponsor utama, makanya setiap orang ditarik sepuluh ribu rupiah. Danang dan Ma’ruf tersenyum nyleneh melihat tingkah Huda mengeluarkan uang nya. Bukan karena si Huda membayar, tapi karena kemarin lusa Huda pernah bilang sedang tidak punya uang. Begitu jhoni tertawa sambil berucap.

“ Lha ini baru panitia hebat, member contoh kepada yang lain. kalau bisa sih lebih dari sepuluh ribu”. Huda yang mendengar ledekan Joni tidak tinggal diam membalas ucapannya.

“ Lho ya memang harus seperti ini, panitia kue ngewehi contoh sit karo liyane men pada melu. Nek bisa malah nglewihi soko panitia”.

“ Apa maning nek ngesuk sing perantauan pada melu nyumbang, yakin maturnuwun banget. Soale acara ngesuk tujuane go ngramekna Desane dewek. Nek udu kita-kita sapa maning sing arep makmuraken desa karo Mesjid Kembaran”. Kata Danang dengan mulut masih mengunyah jaburan tadarusan.

Kalau tidak ada kegiatan semacam ini, kampung terlihat sepi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: