Gelisah Remaja Dikampung sendiri

Raut mukanya menampakan rasa malu ketika ia berkumpul dengan teman-teman sebayanya. Sudah lama memang ia tidak berkumpul dengan teman-teman sedesanya. Dan baru kali ini ia merasakan kebahagiaan bisa berkumpul dan betatap muka dengan yang lain. Awalnya ia sempat tidak akan berangkat acara halal bihalal remaja, namun hatinya tidak bisa menolak kalau sebenarnya ia membutuhkan teman-teman yang lain. Masa sama teman satu desanya ga kenal.

Itulah sebuah gambaran kegelisahan yang terjadi pada seorang remaja putri desa Kembaran yang begitu dalam. Perasaan malu yang ada pada dirinya selama ini telah menghalangi dirinya untuk berkawan dan bergaul bersama dengan remaja yang lain. Selama ini mereka (remaja ) lebih banyak berdiam diri di rumah sambil menonton layar Televisi yang acaranya cuma hiburan semata.

Hal inilah yang kemudian memotivasi beberapa kalangan remaja desa di Musholla al-furqon Kembaran (SMP-SMU ) mengadakan kegiatan halal bihalal remaja. Kegiatan ini sengaja difokuskan untuk para remaja. Karena selama ini ruang kegiatan untuk remaja sangat sedikit. Sehinga diantara remaja tidak terbangun komunikasi yang baik yang pada akhirnya satu sama lain saling menutup diri serta tidak terjalin hubungan yang harmonis untuk memunculkan segala kreatifitas para remaja.

Beberapa kegelisahan dan juga persoalan sempat terlontar dari beberapa remaja yang merasakan bagaimana kondisi desa Kembaran saat ini sudah semakin individual yang kemudian menciptakan tidak adanya komunikasi dikalangan remaja untuk memajukan lingkungannya. Selain itu Novi remaja putri merasa perlu adanya ruang yang memberikan tempat khusus untuk mewadahi segala potensi yang dimiliki oleh remaja desa Kembaran. Selama ini peran remaja belum memiliki wadah yang tepat.

Namun dari acara halal bihalal remaja Musholla al-furqon telah memberikan sedikit angin segar bagi remaja desa Kembaran bahwa masih ada remaja yang masih perduli terhadap kemajuan remaja desa Kembaran. Lalu bagaimana strategi yang tepat untuk memajukan remaja desa Kembaran. Silahkan memberikan masukan dan sarannya.

3 Responses to “Gelisah Remaja Dikampung sendiri”


  1. 1 wiwit putrane pak mul October 5, 2010 at 12:15 pm

    Ketika melihat wajah mushola ini diblog,suasana di sekitar saya membawa alam bawah sadar saya…ya,sayup2 suara pujipujian di mushola tetangga desa tempat saya sekarang tinggal(jogja) itu membawa alam bawah sadar saya 12an tahn yang lalu….teman2 sebaya saya bersendau gurau di mushola itu…..mengaji,yasinan….ya….Aan,Gembot,Agus,Rahmat,Anggun,Gufron,
    Bowo,Beni…terimaksih..maaf tidak nyambung dengan tulisan diatas…

  2. 2 admin October 7, 2010 at 7:52 am

    sip…semoga bukan alam bawah sadar saja, tetapi alam nyata untuk memberikan kontribusinya meskipun jauh dirantau

  3. 3 Aby March 17, 2011 at 1:02 am

    As, Setelah saya membaca tulisan di atas, meskipun belum sepenuhnya terbayang keadaannya, tetapi saya tertarik untuk share.
    Langkah pertama yang mungkin bisa dilakukan adalah pengorganisasian yang jelas, sebab dalam sejarah perjalanan Nabi SAW pun, beliau senantiasa menunjuk seorang pemimpin.
    Ya layaknya sebuah organisasi formal yang memungkinkan semua anggotanya bisa berkreasi sesuai minat, bakat dan kebutuhan serta mampu menjawab semua tantangan kehidupan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: