Super Market Dan sebuah Parfum

Berbicara tentang meyakini suatu ajaran Agama dalam hal ini Islam tidak hanya dilakukan dalam konteks keyakinan semata didalam hati. Namun lebih dari itu meyakini dengan sepenuh hati terhadap ajaran Agama yang dianut haruslah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga Ajaran Agama itu akan semakin membumi karena telah bercampur menjadi satu dengan realita sosial yang ada dalam kehidupan manusia. Karena dalam hal ini manusia adalah Makhluk yang dibebani dengan aturan-aturan Tuhan yang diturunkan melalui agama-agama yang ada didunia ini. Sehingga ketika ajaran-ajaran Tuhan tersebut berbenturan dengan kondisi yang ada maka Tuhan itu telah hidup kembali. Begitu sebaliknya. Serta ajaran-ajaran tersebut akan semakin berkembang dan bisa menjadi jawaban atas persoalan yang ada. Mungkin hal itulah yang sedang terjadi dalam diri Mad Jaiz. Orang kampung Mugiwaras mencoba untuk menerapkan segala ajaran-ajaran Tuhan yang ia yakini sebagai suatu kebenaran yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya sekedar sebagai kebenaran belaka, namun lebih dari itu semua ajaran-ajaran agama yang ia yakini bisa ikut serta memecahkan persoalan hidupnya. Mad Jaiz selalu mendengarkan pengajian-pengajian dikampungnya Mugiwaras. Ada beberapa Majlis Ta’lim yang ada dikampungnya. Karena keterbatasan waktu dan tenaga hanya beberapa saja yang ia datangi Majlis Ta’limnya. Malam itu Mad Jaiz mendatangi sebuah Musholla dikampungnya. Baru kali ini memang ia mendatangi Mushola tersebut. Menurut yang ia dengar dari beberapa tetangganya pengajian di Mushola tersebut sangat bagus entah itu karena Kyainya atau karena isi pengajiannya. Datanglah ia sendirian dengan memakai pakaian yang mlipis bin super mliwis karena sebelum berangkat bajunya itu ia seterika, meskipun dengan menggunakan seterika arang namun tidak kalah mlipisnya dengan seterika listrik yang digunakan oleh tetangganya. Ia kemudian duduk tidak jauh dari sang Kyai yang malam itu membicarakan tentang Tawar menawar harga ketika membeli menurut agama Islam. “ Islam mengajarkan dan telah memberikan ajaran yang jelas bahwa ketika membeli sesuatu haruslah ada hak bagi pembeli untuk memilih antara meneruskan atau membatalkan akad jual beli tersebut. Sehingga diantara pembeli dan penjual terdapat saling kerelaan antar satu sama lain “. Mad Jaiz mengangguk-anggukan kepalanya. Begitu ia sangat mencermatinya dan menghayatinya. Sekarang ia menjadi tahu bahwa sebenarnya adanya tawar menawar dalam jual beli itu supaya adanya kerelaan antara penjual dan pembeli sehingga barang yang dijual ataupun yang dibeli bisa diterima dalam keadaan saling kerelaan antar keduanya. Mad Jaiz pun semakin percaya, yakin, dan optimis bahwa apa yang ia lakukan selama ini sesuai dengan ajaran agama yang ia yakini. Tidak meleset sedikitpun. Beberapa hari kemudian kampung Mugiwaras yang jauh dari keramaian kota diramaikan dengan berita dari selebaran yang disebar-sebarkan dijalan-jalan hingga sampai depan rumahnya Mad Jaiz bahwa dikota telah berdiri Super Market Islami dengan ukuran yang sangat besar. Sebagai orang yang beragama mendengar kata “ Islami “ tentu sangat menggelitik hati dan pikiran Mad Jaiz untuk bisa mengunjunginya dan sekalian berbelanja disana. Setelah melihat alamat Super Market Islami yang tertera di Selebaran kemarin, Mad Jaiz mengajak istrinya untuk berkunjung kesana. Namun karena istrinya akan mendatangi arisan ibu-ibu RT akhirnya Mad Jaiz pergi sendirian. Sebelum berangkat sang istri berpesan untuk minta dibelikan kerudung dan bedak-bedak perias wajah. Titipan sang istri dicatatnya dalam sebuah kertas kecil kosong. “ Pak jangan lupa belikan aku Kerudung warna krem lengkap dengan Parfumnya ya “. Mad Jaiz hanya mengiyakan saja. Karena ia tahu setiap kebutuhan seorang perempuan maka tidak akan lupa dengan Parfumnya. Namun ketika ia hendak melangkahkan kakinya sang istri yang sangat ia cintai memanggilnya kembali. Mad Jaiz pun memalingkan wajahnya memandang istri cantiknya. “ Ada apa bu memanggil saya lagi “. Dalam hati ia tahu kalau ada titipan yang lupa dari istrinya. “ Ooo ya pak jangan lupa Sabun mandinya dan odolnya habis, sekalian dibelikan “. Berangkatlah Mad Jaiz dengan sepeda kumbangnya dengan bunyi derat-deritnya yang khas setiap kali ia menggenjot pedalnya. Sesampainya disana Mad Jaiz merasa kagum bin Takjub melihat bangunan yang tinggi dan sangat bagus. Berbeda dengan bangunan pasar yang ada didekat kampungnya yang biasa untuk berbelanja istrinya terlihat kotor dan kumuh. diparkirlah sepeda kumbangnya. Kali ini ia lebih kagum lagi dan terheran-heran karena begitu ia masuk Super Market itu ia merasakan hawa dingin menyentuh kulitnya. Ia pun merasa kedinginan. “ Ternyata selebaran itu tidak bohong kalau Super Market ini adalah Super Market Islami “. Ucapnya didalam hati. Hal ini bisa dilihat karena semua pelayan yang ada di Super Market ini menggunakan Jilbab semua tidak ada yang terkecuali. Semakin mantaplah Mad Jaiz untuk berbelanja disini dengan berdasarkan melihat pada penampilan pelayan yang berjilbab. Ia pun segera beranjak menuju tempat bagian pakaian. Tertariklah ia dengan salah satu baju batik. Mad Jaiz pun menawar harga baju itu dengan serendah-rendahnya. Alangkah kagetnya ia ketika pelayan yang cantik menjawabnya kalau harga itu sudah pas tidak bisa ditawar lagi. Akhirnya dengan harapan untuk mengamalkan pengajian kemarin malam ia pun pergi kebagian Jilbab. Sang pelayanpun sudah menyanmbutnya dengan sebilah senyum. Kembali ia menawar harga Jilbab itu dan kembali ia harus mendengar jawaban yang sama. Ia pun memutuskan untuk pergi lagi kebagian perlengkapan wanita. Dipilihnya salah satu parfum dengan merek luar negeri. Seperti yang tadi, Mad Jaiz pun menawar harga parfum itu. Dan untuk ketiga kalinya ia mendengar jawaban yang sama. “ Maaf pak harganya sudah pas tidak bisa ditawar-tawar lagi “. Kata pelayan cantik dengan pipinya yang berwarna merah sangat tebal. Mad Jaiz pun menghelai nafas dan juga menahan rasa jengkelnya karena tidak boleh ditawar. Akhirnya ia berpikir ulang antara membahagiakan istrinya dengan sebuah parfum dengan menahan jengkelnya. Diakhir pilihannya Mad Jaiz memilih untuk membeli parfum meskipun dengan berat hati karena menurutnya ini tidak sesuai dengan ajaran agama yang ia yakini. Tapi sisi lain ia ingin membahagiakan istrinya meskipun hanya dengan Parfum kecil. Mad Jaiz segera membayarnya dikasir. Kali ini ia semakin bertambah bingung karena saat ia menerima uang kembalian dari penjaga kasir Mad Jaiz menerima sebuah permen kecil rasa coklat. Karena merasa tidak membelinya iapun komplen kepada penjaganya. “ Maaf Mba saya merasa tidak membeli permen ini tapi mba malah memberikannya kepada saya”. Tanyanya heran. Sambil tersenyum manis penjaga itu menjawabnya. “ Bapak memang tidak membeli permen ini tapi karena dari kami tidak ada kembalian uang Lima Puluh Rupiah maka kami ganti dengan permen coklat ini pak “. Jawabnya. Karena merasa dipaksa maka ia terlihat marah dengan wajahnya yang merah padam. “ Secara tidak langsung saya telah dipaksa untuk membeli permen coklat ini mba “. Katanya dengan nada agak tinggi. “ Tapi Maaf pak dari kami tidak ada kembalian uang Lima Puluh Rupiahan “. Kata penjaga itu. Merasa orang-orang disekelilingnya menatap ke arahnya, Mad Jaizpun mengalah daripada harus malu didepan orang banyak hanya karana gara-gara permen coklat. Ia pun pergi keluar sambil berbicara sendiri memarahi atas kejadian itu. “ Katanya Super Market Islami tapi kok tidak boleh ada tawar menawar seperti ajaran yang ada dalam agama Islam. Ada paksaan lagi untuk membeli permen coklatnya. Lebih baik aku belanja di pasar sebelah kampung ku saja. Meskipun bangunannya jelek tapi disana aku bisa tawar menawar dan aku bisa memperolah uang kembalian sesuai dengan harga yang ada. Kalau aku bisa menawar harga berarti aku bisa menghemat pengeluaranku setiap bulan “. Umpat Mad Jaiz sambil membawa tas keresek hitam berisi parfum milik istrinya. Meskipun pulang dengan amarahnya yang meletup-letup namun didalam hatinya ia masih menyimpan kebahagaiaan karena ia bisa membelikan titipan istrinya. sebuah parfum yang berguna untuk mempercantik wajahnya. Terbayang wajah istrinya yang terlihat cantik dengan bau badannya yang wangi karena memakai parfum yang ia beli. Mungkin malam nanti ia akan lebih tertarik untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: