Kamar Mandi pasien dan di Musholla

Pada hari Minggu kemarin seorang teman saya tergeletak disebuah rumah sakit di Kebumen. Menurut Dokter yang memeriksanya teman saya itu terkena penyakit Hepatitis. Sebuah penyakit yang menyerang organ hati manusia. Setelah saya dikabari saya langsung berangkat untuk menjenguknya. Dengan menggunakan sepeda motor saya langsung tancap gas. Maklum saja saya merasa kaget dengan berita yang saya terima. Karena beberapa hari sebelumnya saya masih bertemu dan bercanda bersama dengannya hingga larut malam. Bahkan sampai saya dan teman saya itu tidak kuat menahan rasa kantuk. Dan akhirnya kami berduapun tertidur. Kalau melihat seperti itu tidak ada tanda-tanda kalau ia memiliki penyakit.
Sesampainya disana beberapa kawan-kawan dan saudara teman saya sudah berkumpul untuk sekedar menemani teman saya itu. Saya pun disambut oleh mereka seperti seorang tamu betulan padahal kami semua sudah saling mengenal. Namun cara mereka menyambut saya sungguh suatu kehormatan bagi saya. Segelas air putih dan makanan ringan tersodor dihadapan saya. Sembari menyalami mereka saya segera menemui teman saya yang sedang terbaring ditempat tidur. Karena melihat teman saya sedang tertidur pulas saya urungkan niat saya untuk menemuinya. Akhirnya saya kembali berbincang-bincang dengan teman-teman. Gelak canda tawapun mulai terdengar mengiringi obrolan ngalor ngidul yang memang terkadang hanya sebuah guyonan belaka.orang-orang disekitar kami melihat kearah kami yang mulai agak tidak terkendali dengan bahan-bahan pembicaraan kami.
Karena sangking tertawanya saya pun merasa untuk buang air kecil. “ Dimana letak kamar mandinya”. Tanya saya kepada seorang kawan didekat saya. Ia menyarankan untuk kemushola.
“ Maaf, maksud saya bukan di Musholla tapi di kamar mandinya”. Ralat nya.
“ Siapa yang akan buang hajat di Musholla kalau bisa-bisa diserang oleh FPI jika ketahuan saya buang air kecil di Musholla he.he..he…!”. jawab saya .
Kemudian saya bergegas pergi ke musholla. Maksud saya ke kamar mandi. Dari luar keadaannya Sangat bersih dan baunya juga tidak menyengat. Nampaknya tidak terlalu lama untuk menunggunya, saya pun langsung buang hajat. Dengan kondisi kamar mandi yang bersih dan baunya juga harum tidak heran jika saya betul-betul bisa menikmatinya. Setelah selesai saya langsung kembali ketempat semula, berbincang-bincang dengan teman-teman. Baru saja saya duduk seorang kawan bertanya kepada saya.
“ Bagaimana dengan buang hajatnya disana enakkan?”. Tanya kawan saya kepada saya. Mendengar pertanyaan itu saya merasa kaget. Karena dari mulai kecil hingga saya besar yang namanya buang air kecil itu ya seperti itu. Rasanya tetap lega karena menahan beban dari dalam. Plong. Kemudian saya balik Tanya kepadanya.
“ Lho memangnya kenapa dengan kamar mandinya?”. Tanya saya.
“ Soalnya kamar mandi yang digunakan untuk pasien kamar kelas ekonomi itu kotor semua. Jorok semua. Bahkan ada yang sampai kotorannya itu belum dibersihkan segala. Ada juga darah yang tercecer dipintu WC yang belum dibersihkan. Itu yang aku lihat pagi tadi. Hanya di Musholla saja yang terlihat bersih dan tidak kotor”. Jawab nya panjang lebar. Mendengar jawaban itu saya agak heran. Soalnya kamar mandi yang khusus untuk pasien kok malah kotor. Seharusnya jauh lebih bersih karena digunakan untuk orang yang sakit yang sedang butuh kenyamanan. Saya pun segera balik Tanya kepada teman saya itu.
“ Kamu tahu kenapa Kamar Mandi di Musholla itu jauh lebih bersih dari pada yang digunakan untuk pasien “. Tanya saya dengan setengah tersenyum. Kawan saya langsung geleng-geleng kepala.
“ Karena pola pikir orang-orang kita itu lebih mementingkan kamar Mandi tempat Ibadah ( Musholla ) sebagai sebuah tempat yang suci daripada yang bukan tempat ibadah yang menurut mereka kurang bernilai sisi ibadahnya. Ya kan?”. Kawan saya langsung manggut-manggut.seolah-olah membetulkan jawaban saya. Walaupun saya juga tidak tahu apakah jawaban saya itu benar atau tidak.
“ Kalau kita perhatikan, agama kita itu mengajarkan bahwa dimana-dimana itu ibadah. Demikian juga membersihkan kamar mandi untuk pasien itu ibadah jauh lebih besar pahalanya daripada di Musholla. Ya Tohhh?’ Kami pun langsung terdiam karena teman saya yang sakit memanggil saudaranya untuk minta diambilkan air minum. Annadlofatu Minal Iman.

0 Responses to “Kamar Mandi pasien dan di Musholla”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: