Tahun Baru dan Obrolan Budaya

img_05301

Memperingati Tahun baru Hijriyah dan menyambut Tahun baru Masehi Komunitas Mata Baca Alfurqon mengadakan sebuah acara refleksi Budaya. Acara dengan obrolan tentang budaya sebagai cipta karsa manusia. Budaya yang membentuk manusia sebagai makhluk sosial dan berbudaya. Acara ini di adakan malam hari tanggal 28 Desember 2008 bertempat di sekretariat Komunitas Mata Baca Al-Furqon ( KMBA ) yaitu di Musholla al-furqon dihadiri oleh beberapa kalangan. Baik dari para seniman, budayawan, aktifis muda dan juga dari berbagai pemerhati budaya.
Dari sekitar Tiga puluh undangan yang disebar, beberapa diantara mereka ada yang tidak bisa hadir di karenakan memiliki kesibukan yang tidak bisa di tinggalkan. Meskipun seperti itu, acara obrolan budaya ini bisa dikatakan meriah. Sebelum acara obrolan budaya dimulai, Ketua panitia Rimba Palangka membacakan karya puisinya sebagai bentuk pertanggung jawabannya dan juga sebagai ucapan terimakasihnya kepada para tamu yang sudah berkenan memenuhi undangan. Selain Rimba Palangka, ada juga bapak Slamet Eser dan Sahid dari Teater Gerak yang ikut membacakan beberapa karya puisinya. Tidak ketinggalan pula penyair wanita dari Jogja yang kebetulan mampir mengikuti acara ini ikut juga membacakan puisinya. Dengan ditemani kacang godok dan beberapa piring lanting ( Makanan Khas Kebumen ) obrolan budaya pada malam itu menciptakan aliran yang deras dengan munculnya gagasan-gagasan baru yang tersaji dari para tamu yang hadir.
Acara obrolan ini diadakan untuk menggiatkan kembali budaya obrolan di kota Kebumen. Bukan hanya sebuah obrolan biasa namun sebuah obrolan tentang persoalan kebudayaan yang berkembang khususnya di wilayah Kebumen dalam konteks budaya manusia sebagai makhluk yang memiliki cipta karsa yang tinggi dibandingkan dengan makhluk yang lain. Kerap kali perubahan zaman yang semakin tidak menentu ini menjadikan manusia lupa akan anugrah yang telah diberikan oleh Tuhan yang maha kuasa. Salah satunya adalah diberikannya sebuah mulut. Tradisi obrolan ataupun diskusi tentang sesuatu hal yang lebih bermakna semakin luntur. “Acara-acara seperti obrolan budaya inilah yang sedang dicoba di kembangkan oleh Komunitas Mata Baca Al-Furqon”. Tambah  Rimba.
Sering kali kegiatan obrolan hanyalah sebuah pembicaraan yang dilakukan oleh beberapa orang yang disitu tidak lebih bualan-bualan belaka tanpa memiliki makna dan tujuan yang berarti. Namun sebuah obrolan akan lebih menarik jika tema yang diangkat mempunyai tujuan kearah sebuah perubahan. Dan tentunya adalah perubahan kearah yang lebih baik. Baik itu dalam bidang Seni, Politik, social, Agama ataupun yang lainnya adalah salah satu jalan untuk mengadakan perubahan.
Obrolan budaya yang diselenggarakan oleh KMBA ini juga menjadi sebuah ajang rindu terhadap budaya obrolan, diskusi atau dengan nama apapun yang bisa dijadikan sebagai tempat memunculkan gagasan-gagasan baru. Begitu yang dirasakan oleh beberapa yang hadir. Menurut mereka Budaya diskusi atau obrolan belum menjadi suatu trend dikalangan masyarakat Kebumen. Mereka lebih suka membentuk komunitas Hoby anak muda era sekarang. Padahal kalau diamati lebih dalam bahwa persoalan-persoalan rumit akan bisa terpecahkan jika di obrolkan, di diskusikan, dimusyawarahkan atau  di apapun secara bersama sama.
Beberapa keluhan juga sempat dilontarkan dalam obrolan tersebut. Semisal tentang kegelisahan para seniman yang selama ini berkarya tidak merasa puas dengan penghargaan apresiasi yang diberikan oleh masyarakat Kebumen atau juga oleh pemerintah. Kurangnya penghargaan terhadap hasil karya orang lain dalam segala bidang merupakan sebagai perwujudan dari perubahan budaya masyarakat kebumen. Mereka akan lebih bangga dengan budaya meniru-niru dengan budaya yang sudah ada. Padahal kalau digali lebih dalam bahwa masyarakat Kebumen memiliki kearifan lokal yang sangat tinggi. Namun tanpa disadari dengan semakin berkembangnya zaman dan budaya yang juga ikut berkembang mau tidak mau budaya yang seharusnya dijadikan sebagai cirri khas suatu masyarakat lambat laun semakin hilang.
Beberapa undangan yang hadir juga ikut mengatakan bahwa kebudayaan adalah jalan untuk mengadakan perlawanan terhadap budaya yang tidak sesuai dengan jati diri masyarakat itu sendiri. Atau bisa dikatakan bahwa budaya untuk perubahan.

6 Responses to “Tahun Baru dan Obrolan Budaya”


  1. 1 H.M.Jamil,SQ,MPd December 31, 2008 at 5:13 am

    Salam Hormat, Salam Senyum Kanggo Sedulur Kabeh
    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Perkenalkan, Saya H.M.Jamil,SQ,MPd ingin meminta dukungan Saudara dalam pemilihan Caleg DPR RI PPP 2009 Dapil Kebumen, Banjarnegara & Purbalingga.
    Semoga bermanfaat bagi kita semua.
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

  2. 2 anif December 31, 2008 at 6:40 am

    Mas salam nggo khuri

  3. 3 aal January 21, 2009 at 11:47 pm

    tks atas kunjungannya bung. salam kenal juga.

  4. 4 sabit February 3, 2009 at 2:03 am

    sippp
    kapan kopy darat?

  5. 5 ibad March 25, 2009 at 10:17 am

    Waduh, kang semakin cakep saja kegiatan di Musollanya.. semangat terus ya…

  6. 6 dadank bullshit December 21, 2009 at 3:58 pm

    mas humam kagen bget ramadan kemaren ga dkembaran,,,,,,,,,,,,,,,,,,tadarusan ga mas……………trus


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: