sajak-sajak Rimba palangka

Merindui kota
Sepenggal kisah pernah kugoreskan untuk kota ini
Dengan goresan anak-anak jalanan yang tinggal
Di balik gedung bioskop tua
Aku lemparkan sekeranjang janji jika kelak aku akan kembali
Wajah-wajah dekil itu membalas dengan senyum merekah
Dari bibir-bibir sunyi yang kering belaian besi-besi tua
Sebagaimana anak-anak yang lain ceria akan baju baru
Yang dibelikan ayahnya.
Kini aku kembali kawan
Tapi tak jua kutemukan dirimu di tempat dahulu
Kita pernah memungut nasib dari kertas-kertas
Yang di buang tanpa batas
Dimana dirimu kawan aku rindu kau
Senyum yang kau berikan kepadaku
Masih kusimpan dengan baik.
Karena hanya itu yang bisa untuk mengenang dirimu
Jika waktu kembali mempertemukan kita
Aku akan mengajakmu memungut
Serpihan kaca-kaca rindu yang tercecer dikota ini.

Kebumen, 2008

Ada yang hilang dari kota ini
Bak badai sunami yang meluluhlantahkan pinggiran pantai
Kota tempat aku dilahirkan telah kehilangan kata-kata
Mulut-mulut terkunci rapat
Hanya menguapkan kata yang tak pernah bemakna
Mal-mal itu telah memampatnya dengan cerita-cerita
Yang menggiurkan bagi para penghuni kota ini
Wajah-wajah para pedagang tinggal tulang belulang
Lalu dimana kata-kata itu
Kata-kata yang pernah menghidupkan para penyair kota ini
Menghidupkan para pejuang rakyat-rakyat kecil
Melambungkan para wali dengan segala azimatnya
Bukankah kota ini menyimpan seribu kisah cerita
Hingga orang yang mendengarnya pun tak mampu lagi berucap
Ataukah kata-kata dikota ini telah tergantikan oleh kursi-kursi
Yang berderet rapi di gedung-gedung mewah
Hingga ia lupa kawan !
siapa yang telah membuat kursi itu
Ataukah kota ini telah menutup diri bagi para penyair
Yang tak henti-hentinya menyenandungkan puisi-puisi sufistiknya
Anak-anak pun tak bisa lagi mendengarkan nyanyian nina bobonya
Dari mulut ibunya karena telah tergantikan dengan nyanyian masa kini
Kata-kata itu tak lagi terucap karena terkunci dari bilik aturan
Yang tidak berpihak
Kebumen, 2008
Bintang Terang
Dari arah barat pada langitmu satu bintang bercahaya
Dengan terang benderang
Matahatiku mengisyaratkan adalah rindu
Yang pernah ditanamkan untuk kota kecil ini
Sepanjang jalan-jalan di pinggir kota

Genteng-genteng berderet rapi menunggu

Para pejalan kaki yang lewat
Bagai pengemis-pengemis tua yang tak heni-hentinya
Melantunkan lagu nasib perjuangan hidup
Sembari mengulurkan tangan-tangan sepinya
Dari arah barat pada bintang kecil yang terang benderang
Kau menurunkan segala misteri jejak-jejak kecil
menelusup lewat celah-celah malam
Melewati bukhul-bukhul para penyihir
Dengan mantra ajaibnya.
Kebumen, 2008
Dari Mata Ibu
Telah mengisyaratkan beribu-ribu lembar kisah
Tentang air mata yang tak henti-hentinya
Menenggelamkanku dalam memotret perjalanan panjang
Pada lorong-lorong sepi di kota tua ini
Lalu membawaku dalam kerinduan kekosongan
Yang tak pernah terlintas dalam benakku.
Dari mata ibu mengalirkan Sembilan puluh Sembilan
Cinta kasih, dengan lirik-lirik yang selalu kau
Wiridkan dalam setiap langkahmu
Mengalirkan sejarah panjang bak sungai Nil
Yang tak pernah habis memberi kehidupan pada
Seribu umat manusia di pinggirnya
Sayup –sayup terdengar gemerincing lonceng
Malaikat jibril mengepakan sayapnya dari balik rahim
Para ibu
Kebumen 2008
Rimba palangka dilahirkan di Kebumen 1982, beberapa karyanya pernah dimuat di Majalah Bakti, Majalah Advokasia, antologi Jalalah (2001 ) dan beberapa media lokal. Saat ini aktif di Komunitas Mata Baca Alfurqon di kotanya.

2 Responses to “sajak-sajak Rimba palangka”


  1. 1 dadank bullshit December 21, 2009 at 4:04 pm

    salam wae wat mas N keluarga…………….

    ada kegiatan pa ja mas ……………………….

  2. 2 dadank bullshit December 21, 2009 at 4:06 pm

    assalamualaikum wr wb

    lanjutkan mas


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: