Belajar Dapur ngepul di Musholla?

Hujan kembali mengguyur dengan derasnya…padahal undangan telah kami buat. Rasa cemas pun kembali menyeruak dalam pikiran saya. Undangan telah kami sebar.” Jangan-jangan mereka tidak datang”. Kata saya kepada Mba Iin seorang ibu muda yang suka berorganisasi.  Wajah  Mba Iin pun terlihat cemas. Kegiatan yang telah kami rancang sedemikian rupa semoga tetap berjalan sebagaimana dengan rencana sebelumnya. Maklum saja kegiatan yang masih sangat jarang terjadi Di desa kami dengan budaya masyarakat kota. Sebuah kegiatan dengan diskusi membahas masalah perempuan (Ibu-Ibu ) – Masalah Dapur, mengurusi anak, pergaualan anak remaja, reproduksi perempuan – tentulah sangat minim untuk ditranggapi dengan masyarakat yang masih kurang pengetahuan dan sudah terkontaminasi dengan budaya kota.

Tidak lama kemudian seorang ibu mengetuk pintu rumah mba Iin. ” Eh mba Juh toh saya kirain siapa? “. Sapa Mba Iin dengan wajah bahagia. segera kami meluncur ke Musholla alfurqon. dan ternyata disana sudah datang ibu-ibu yang kami undang. walaupun diluar masih hujan mereka tetap bersemangat mengikuti diskusi ini. Dengan dipandu oleh mba Iin diskusipun berjalan. Beberapa pertanyaan pun muncul dari para peserta diskusi. banyak dari mereka yang kurang mengetahui dengan solusi permasalahan rumah tangga. Contoh saja bagaimana menndidik anak-anak mereka ditengah kondiisi yang sudah sanagt moderen. Banyak mereka mengeluhkan dengan pergaulan remaja sekarang. Padahall mereka memiliki anak-anak perempuan remaja yang terkadang kurang tahu dengan dampak pergaulan bebas.

Diskusipun meluncur pada persoalan Haidl pertama kali bagi seorang anak perempuan. Banyak dari peserta juga belum banyak mengetahui tentang masalah haidl baik itu dari segi Kesehatan,  Psikologis ( Kejiwaan ), dan juga dari segi agama. Semisal dari segi kesehatan bagaimana pengaruh pembalut terhadap alat reproduksi perempuan. Adakah pembalut memberikan rasa aman atau bisa menjadikan penyakit bagi perempuan tersebut. Dari segi agama anak haruslah diberitahu tentang hukum-hukum yang tidak diperbolehkan ketika sedang haidl dan apa yang harus dilakukannya.

Dalam suasana santai namun tetap pada porsinya, diskusi itupun menjadi ramai dengan kembalinya beberapa pertanyaan dari peserta. ” Bagaimana ya mba, caranya mengajak anak supaya tidak kebanyakan nonton sinetron. Saya takut kalau mereka terpengaruh”. begitulah beberapa diskusi ibu-ibu rumah tangga yang menginginkan pengetahuan baru ditangah kondisi yang sudah carut marut dengan pergaulan yang bebas. bagaimana dengan anda ingin rembug? silahkan ……………saya tunggu masukan anda. Masukan saran anda akan sangat bermanfaat bagi kami yang sedang belajar..

1 Response to “Belajar Dapur ngepul di Musholla?”


  1. 1 dariman November 28, 2008 at 6:06 am

    Sip………….

    kalau boleh menanggapi, walau pun saya juga masih tahab belajar.
    ada beberapa hal yang masih tersimpan dan belum di sampaikan, jadi kelihatannya masih ngambang gitu loksssss……………………….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: