Tiga Bocah

Tiga bocah perempuan dengan penuh semangat menenteng tas berisikan buku-buku pelajaran berangkat ke musholla tempat mereka belajar. Tiga bocah itu adalah Jihan, Desi dan Putri. Mereka selalu menghadirkan kepolosan-kepolosan dan keluguan sebagai seorang anak dengan guyonan-guyonan itu diberhentikan oleh sang pembimbing karena meniru di Televisi dan tidak layaj untuk di konsumsi oleh mereka.

Tiga bocah perempuan itu adalah kakak beradik yang selalu pergi bersama dan saling tolong menolong dibandingkan dengan teman seusia mereka. Putrid dan kedua adiknya termasuk dari keluarga yang tidak mampu. Ayahnya adalah pengumpul barang-barang bekas. Rumahnya pun hanya terbuat dari bilik bambu ( anyaman bambu ) yang berukuran sangat kecil jika dibandingkan dnegan keluarga yaitu delapan orang.

Namun siapa sangka jika dalam diri Putrid an kedua adiknya mempunyai cita-cita yang tinggi. Setiap kali belajar bersama dengan penuh semangat dan sebuah senyum yang selalu menyungging dari bibir mereka, Putri dan kedua adiknya selalu memperhatikan apa yang di sampaikan oleh pembimbing

Meskipun berada di tengah-tengah masyarakat yang cenderung memasuki dunia individualisme keluarga Putri selalu menerima dengan apa yang mereka miliki. Mereka tidka merasa iri dengan para tetangga yang berada di atas mereka.

Hal ini tercermin ketika orang tua Putri selalu menanamkan sifat-sifat sederhana kepada anak-anaknya. Pada pagi hari Putri dan kedua adiknya berangkat sekolah, setelah itu sore harinya mereka mengaji dan pada malam hari mereka berengkat untuk berekumpul bersama dengan teman-teman yang lain di Komunitas Mata Baca Al-Furqon.

Banyak sekali anak-anak di Indonesia yang belum sepenuhnya mendapatkan hak-hak mereka. Hak mendapatkan kasih sayang, hak mendapatkan pendidikan, hak untuk bertanya, hak untuk mengetahui pengetahuan.

Di tengah dunia yang semakin mengglobal tanpa disadari oleh orang tua hak anak semakin dikebiri. Tontonan televisi yang sering menonjolkan kekerasan menjadikan orang tua melarang anak-anaknya untuk bermain bersama teman-temannya. Ditambah lagi tempat-tempat utnuk bermain yang terus tergerus oleh kaki pembangunan.

Putri dan kedua adiknya hanyalh sebagian kecil anak-anak Indonesia yang bisa dijadikan contoh. Keberdaan ditengah dunia perkotaan tidak menjadikan mereka lupa dengan dunia mereka.

0 Responses to “Tiga Bocah”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: