Archive for October, 2007

syawalan Budaya

Dalam rangka melestarikan budaya di Indonesia yang salah satunya adalah halal bihalal, pesantren alternatif Al-furqon mengadakan acara syawalan budaya yang bertempat di Musholla al-Furqon. Acara syawalan budaya kali ini mengambil tema “ Menjaga Budaya Lokal Sebagai Jatidiri Bangsa” dengan pembicara K. Tamam Syifa Akyas dari Petanahan dan di hadiri oleh warga RT01 RW 01 desa Kembaran Kebumen. Dalam acara syawalan Budaya ini juga ditampilkan kreatifitas dari para santri diantaranya pembacaan puisi oleh Desi dan tiga dua buah lagu yang dinyanyikan oleh Ocha, Sari, Desta, Asih dan Nisa dengan diiringi oleh adik Tika, Davi, Aisyah, Umi. Mereka menyanyikan lagu-lagu yang tidak asing bagi anak-anak yaitu Desaku dan Pamanku Datang. Continue reading ‘syawalan Budaya’

Advertisements

” mencari buku”


            Oleh: Nabhan

Mencari buku bukan berarti mencari sembarang buku. Banyak took-toko buku dikota Kebumen menjual berbagai macam buku. Ada buku tulis, buku pelajaran dan buku-buku yang biasa dinikmati oleh masyarakat Kebumen. Namun yang dimaksud disini adalah buku-buku bacaan tentang sebuah wacana atau buku-buku yang biasa dikonsumsi oleh para pakar intelek. Bukan bermaksud menggurui penulis pernah mengenyam bangku kuliah di Jogjakarta. Bagaimana kehidupan masyarakat jogja tidak bisa dilepaskan dari benda yang bernama buku. Mau cari buku apapun bisa dikatakan sangat mudah.

 Ketika penulis pulang kekota kelahiran, penulis masih mempunyai keingin yang kuat untuk bisa jalan-jalan kesebuah toko buku yang menjual buku bermacam-macam jenis buku seperti di Jogja. Namun hanya beberapa toko saja yang menyediakan buku bacaan untuk bisa dikonsumsi menurut selera penulis. Dan ketika penulis menanyakan tentang buku-buku wacana yang laku di kota Kebumen, penjaga toko itupun tersenyum kecil sambil  mengatakan “kalau buku-buku seperti ini kurang laku”.

Bagaimanapun juga budaya untuk membaca di kota-kota kecil belum terbentuk. Bisa dikatakan kalau hal ini dipengaruhi oleh sebuah lingkungan yang ada. Lingkungan bukan berarti harus melalui banyaknya Perguruan Tinggi atau sekolah-sekolah yang ada,akan tetapi kesadaran terhadap masyarakat akan pentingnya membaca buku harus ditingkatkan. Dengan melalui penyadaran yang kritis terhadap budaya membaca diharapkan memunculkan masyarakat yang kritis terhadap segala perubahan.  

Buku adalah jendela dunia, dengan membaca buku maka kita telah membuka dunia baru. Mungkin begitulah kata orang-orang bijak. Bagaimana ketika bangsa barat begitu ketakutannya akan bangsa-bangsa Arab yang sangat kuat akan tradisi membacanya.sehingga dalam perang salib beribu-beribu buku dihancurkan karena mereka khawatir jika bangsa-bangsa Arab akan menguasai akan sebuah peradaban dunia. Begitu juga ketika memberikan sebuah kado ulang tahun kepada seorang sahabat atau saudara, akan sangat berarti jika kita memberinya sebuah buku. Karena dengan cara seperti itu berarti kita telah mengajarkannya untuk membudayakan membaca buku.

Dengan membaca buku berarti kita telah mendapatkan banyak ilmu yang akan kita peroleh. Masih sedikit sekali budaya memberikan kado ulang tahun, pernikahan dan lain sebagainya dengan memberikan kado sebuah buku.