Kain Sarung Pak Sular

Deneng aku nganggo sarung dewek” (kok saya pakai sarung sendirian) tanya Pak Sular salah satu teman duduknya. Kontan saja wajah Pak Sular agak malu-malu dengan pada hadirin yang berbusana resmi a la kondangan. Mungkin karena merasa paling berbeda penampilan dengan warga lainnya, Pak Sular pun mengambil posisi duduk di dekat pintu keluar balai desa.

Saat itu Pak Sular menghadiri rapat pembentukan panitia Pilkades Kembaran. Menurut panitia yakni BPD Kembaran, rapat tersebut mengudang sekitar 50an warga. Dari 40an warga yang hadir, dari camat, kades, ketua BPD, sampai warga biasa, memang hanya Pak Sularlah yang memakai sarung berkombinasi batik dan peci hitam. Sekalipun Kyai desa Kembaran yang saat itu hadir juga tidak mengenakan kain sarung. Malah menggunakan celana berpadu dengan kemeja dan peci hitam. Setelah mengambil tempat duduk, sejurus kemudian, ia menyulut sebatang rokoknya yang belum sempat habis dihisapnya karena terlanjur kebanyakan ngobrol dengan warga lainnya sebelum acara dimulai.

Kehadiran Pak Sular di forum tersebut mungkin mematahkan tesa sebagian kalangan yang menganggap warga yang termarginal tidak mau kumpul-kumpul membahas gawe di desanya, karena dipastikan ribut dengan persoalan ekonominya. Sular kesehariannya bekerja sebagai penggayuh roda tiga alias tukang becak. Sesekali profesi tersebut ditinggalkan sementara untuk sekedar mencari bawon (upah bagi para pekerja pemetik padi) saat musim panen tiba.

Wajah yang polos sungguh melihatkan betapa pedulinya dia dengan dinamika sosial dan politik yang akan terjadi dua bulan ke depan. Bagi sebagian orang mungkin mengabaikan kalau tukang becak pun sebenarnya tahu atas apa yang terjadi di desanya. Dia hadir tentu bukan karena undangan semata tapi ia tahu bahwa desanya akan punya gawe yaitu pemilihan kepala desa.

Ya kain sarung baginya mungkin simbol kepribadian masyarakat kampung yang harus dipertahankan. Bukanlah satu penghalang tatkala aktivitas sosial berbusanakan sarung. Bagi kalangan modernis, berkain sarung mungkin kolot dan bikin ribet aktifitas. Tapi Pak Sular sekali lagi telah membuktikan bahwa kain sarung tidak bikin ribet. Malahan Pak Sular secara simbolik sebenarnya menyampaikan pesan pada publik tentang ”jasmerah”. Ya jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Kalau kita mengingat kembali cara perlawanan para Kyai dulu adalah mempertegas garis demarkasi antara warga Indonesia dengan penajajah yaitu tidak berbusana a la walondo. Konkritnya berbusana ala santri adalah bentuk perlawanan rakyat Indonesia pada kaum imperialis. (adlan)

0 Responses to “Kain Sarung Pak Sular”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: