Lesson Learned dari Wacana Pilkades Kembaran

Oleh : Borni Kurniawan

Tiga atau empat bulan lagi desa Kembaran akan menyelenggarakan pesta demokrasi. Pesta tersebut secara normatif adalah memilih sosok orang yang dipandang mampu mengemban amanat agar kehidupan masyarakat desa menjadi lebih baik. Sosok tersebut nantinya akan dipilih melalui pemilihan langsung.

Tidak seperti pemilihan Pilbup, pilgub dan pilpres, dari dulu pilkades merupakan bentuk pemilihan yang paling mengakar dengan masyarakat. Artinya masyarakar secara langsung bisa menilai dan memilihnya secara langung. Masyarakat desa sudah mengetahui karakteristik bakal calon kepala desa mereka karena mereka sama-sama hidup di desa. Kehidupna desa membuka ruang bertemu dengan frekuensi lebih. Dalam kegiatan seperti kenduri, yasin tahlil, kerja bhakti, dan kegiatan keagamaan lainnya, mereka salaing bertemu. Maka tak heran kalau persinggungan sosial yang kental menempatkan masyarakat desa sebagai prototype masyarakat yang kental dengan solidaritas sosial.

Berbeda dengan pilbup, pilgub dan pilpres, ketiga even ini bak memilih kucing di dalam karung. Jarak antara masyarakat pemilih dengan calon yang akan duduk sebagai anggota legislatif, bupati, gubernur dan presiden terlampau jauh. Misalnya publik mengenal SBY semenjak Gus Dur menjadikannya sebagai bagian dari jajaran kabinetnya. Sebagian besar pemilih, bisa dipastikan tidak kenal SBY so closed. Paling-paling karena gantengnya rakyat memilih. Dengan potret yang murah senyum SBY di pilih. Malahan sebagian besar wanita memilih SBY karena gantengnya.

Nah, bagaimana sih kalah kita lihat lebih dekat pada momentum politik desa Kembaran menjelang pilkades. Kabupaten Kebumen akan melaksanakan pilkades pada 300-an desa dalam tiga tahap. Tahap pertama nanti akan dilaksanakan pada bulan Mei. Dan mungkin akan berakhir pada bulan September. Menurut informasi yang terhimpun kepala desa sekarang akan berakhir 22 Juni nanti. Ini sama artinya pilkades Kembaran akan dilaksanakan pada tahap kedua atau ketiga.

Meski secara fit, belum ada warga yang mencalonkan diri, karena memang belum dibuka pendaftaran, ada baiknya tulisan ini mencoba hadir manjadi jembatan perspektif penguatan politik kewarganegaraan, meski di lingkup desa. Yang jelas tulisan ini tidak menempatkan warga desa sebagai komunitas katrok (maaf minjam istilahnya Thukul Arwana).

ada beberapa pra kondisi yang perlu kita perhatikan. Pertama, rentan waktu menjelang pilkades atau tepatnya masa sebelum pendaftaran adalah masa yang biasanya digunakan untuk penjajagan antar bakal calon (disingkat balon). Masa-masa ini penting selain untuk menjajagi kekuatan-kekuatan lawan, juga turut menentukan prestige seseorang. Balon akan berpikir ulang dampak psikisnya, mana kala ia terkalahkan di kompetisi pemilihan nanti, padahal ia deklarasi paling awal dibanding kompetitor lainnya.

Kedua, pada masa-masa ini masyarakat juga akan dipenuhi dengan atmosfer isu yang cenderung mengarah pada penjatuhan pada masing-masing balon. Di Kembaran sudah mulai terasakan wacana ”kenapa sih wing sudah jadi kyai kok masih mau nyalon sebagai kades?” Ada juga kritik yang ditujukan pada seorang mantan lurah yang mau nyalon lagi, ”wong sudah pernah jadi kades kok kemaruk lagi, bok yao buat yang lainnya”. Secara politik wacana ini sah digelontorkan ke ruang publik. Bagaimana pun masing-masing balon membutuhkan suara warga yang dilandasi satu pertimbangan yang matang agar pilihannya tepat. Selain itu adalah sah apabila satu sama lain, ingin menjatuhkan sebelum pertandingan dimulai. Pra kondisi inilah yang kabarnya juga membuat keder salah satu balon, yang sebenarnya beberapa bulan lalu namanya, sudah menggelinding di tengah-tengah wacana publik.

Keempat, begitu balon-balon positif mendaftarkan diri pada panitia pilkades, bukan tidak mungkin masing-masing sudah membuat gerbong politiknya. Dua kekuatan yang akan digunakan adalah tim sukses dan pemanfaatan kantung-kantung suara. Tim sukses a la masyarakat desa tentu berbeda dengan tim sukses a la pilkada atau pilpres. Pengalaman tim sukses yang dibuat oleh Miftahudin Ahmad misalnya cukup mendaulat tiga koordinator yang secara teknis politik diaulat untuk mendulang suara dari berbagai wilayah. Merekalah yang kemudian akan menyiapkan mesin-mesin politik ke bawah. Sebagaimana yang sudah berjalan, maka mesin politik akan diciptakan dari kelompok-kelompok tradisi yang ada di desa. Mulai dari kelompok yasinan bapak-bapak dan ibu-ibu, kelompok tani, tukang becak sampai membidik keluarga yang paling banyak jumlah sanak dan familinya.

Kelima, detik-detik menjelang pemilihan, maka tim sukses plus mesin politik baik yang terlihat maupun dibalik layar akan bergerak secara terkendali yakni perolehan dukungan suara sebanyak-banyaknya. Maka tidak heran kalau kita kenal dengan istilah ”serangan fajar”. Karena detik terakhir merupakan waktu sebagai penentu hitung-hitungan kekalahan baik secara kuantitas suara maupun kerugian materi. Antar botoh biasanya pada detik terakhir akan saling memberi tawaran materi yang paling banyak.

Keenam, waktu pemilihan menempati titik penentu kemenangan bagi tiap calon. Sebaliknya bagi pemilih disinilah ruang untuk menumpahkan pilihan nurani pada calon-calon yang biasanya didudukan dalam suatu podium agar publik mengenal calonnya. Disinilah warga akan ditantang benarkah pilihannya akan membawa perubahan pada dirinya dan desanya kearah yang lebih baik. Sebaliknya bagi calon dan botoh yang sudah mengeluarkan materi membalik pertanyaan itu menjadi ”nek kalah piye ya? Wis kadung metu akeh je”. Yang cukup kita waspadai disini adalah imbasnya, jika ternyata ada permainan politik uang. Bisa jadi antar pemilih nantinya saling memberi punishmentoh pantes si A di beri sekian ribu sih, maka dia milih si calon A” atau sebaliknya.

Sebagai penulis saya berharap hal-hal negatif paska pemilihan tidak akan muncul ke permukaan sebagai bom waktu yang akan meletupkan konflik antar warga desa. Tetap satu padu OK..!

0 Responses to “Lesson Learned dari Wacana Pilkades Kembaran”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: