Terjegal Jadi Calon Lurah Kembaran

Pak Adman Fauzi kesehariannya sebagai perangkat desa. Jabatannya sebagai kaur umum. Kalau warga desa mau membuat KTP, khususnya RT 1, biasanya mereka meminta jasanya agar KTPnya bisa digarap secepatnya. Masyarakat meminta bantuannya mungkin karena dua faktor. Ingin cepat jadi dan membantu perekonomiannya yang tidak seperti perangkat atau pejabat daerah lainnya. Tapi saya lebih percaya yang kedua, karena saya sendiri kalau buat KTP anggarannya saya tambahi yang formalnya Rp. 5000,- saya tambah menjadi 10.000,-. Sisa 5.000 saya niati sebagai tambahan ongkos kesel. Bukan sombong dan bukan nyogok lho…

Sebelum kematiannya pada tahun 2000, pengasuh pesantren Al Furqon memberi amanat kepadanya menjadi tetua di Mushola tersebut. Atau dengan kata lain menjadi Imamnya. disamping itu anak-anaknya waktu itu masih pada kuliah di luar daerah. Pertama-tama masyarakat kurang belum bisa menerimanya sebagai imamnya. Dengan pertimbangan ini itu. Tapi lambat laun keyakinan masyarakat kepadany pun tumbuh. hal ini mungkin dikarenakan ia lulusan pesantren ternama di Indonesia. Tebu Ireng, Jombang adalah pesantren pertama yang ia ambah pada tahun 60-an akhir. dari tebu Ireng ia melanjutkan ke pondok Jampes, masih di Jawa Timur Juga.

Selepas nyantri di pesantren tersebut kemudian ia kembali pulang kampung. Pada tahun 1985 desa Kembaran menyelenggarakan pilkades. Dengan berbekal ijazah pondok yang setara SLTP waktu itu, ia memberanikan diri untuk maju dalam pertarungan tersebut. Ia akan bertarung dengan dua kandidat laiinya yaitu Bapak Aziz Ahyani dan Bapak Khambali.

Namun kehidupan politik di tahuntahun itu masih kental dengan dominasi politik orde baru dimana stempel pembedaan antara ijazah formal pondok pesantren dan sekolah pemerintah masih kuat melekat. Akibatnya Pak Adman gagal menjadi calon kades.

Dalam analisanya, ia mengatakan bahwa disini sebenarnya ada trik politik yang dimainkan oleh salah satu lawannya dengan mempengaruhi pihak pemerintah untuk mengatakan bahwa ijazahnya diragukan. Padahal sebagai lembaga pendidikan kala itu ijazah pesantren Tebu Ireng sama statusnya dengan ijazah sekolah dibawah naungan pemerintah. Ia juga menengarai ada permainan politik uang dibalik digugurkannya dia sebagai kandidat kades kembaran.

Ada yang menarik dari perjalananya sebagai warga yang berhasil menggapai kedudukan jadi perangkat desa. Sebelum meninggal pak Muhajir atau yang akrab dipanggil pak Liwon (ia warga dusun Panggel) bercerita pada saya. Sebelum Pak Adman menjadi pejabat desa, suatu malam ia mendengar suara orang membaca Al Qur’an (baca; tadarus Al Qur’an) di pekuburan umum yang tak jauh dari rumahnya. Lacak punya lacak akhirnya suara itu berasal dari sebuah pohon besar di pekuburan yang masuk wilayah dusun Panggel. Di dekat pohon tersebut ia bertemu dengan sosok pemuda yang cakap tadarus Al Qur’an.

inti pembicaraan antar keduanya, pak Adman mendapat amanat untuk pergi ke Masjid Demak dan membeli kain sarung yang baru. ia dikasih tahu kalau nanti sarungnya hilang di sana, dirinya diminta mengikhlaskan. singkat cerita setelah kejadian itu tidak lama kemudian ia menjabat sebagai salah satu jajaran pemerintah desa Kembaran. apa yang patut kita petik kemudian dari biografi singkat Pak Adman?

Pertama, masih adanya sikap pemerintah yang menomorduakan pada kalangan santri. Santri mungkin masih dianggap sebagai kelompok masyarakat yang lugu, mudah dibohongi dan dikalahkan dalam pertarungan politik. Meski ditingkatan desa. Dalam stigma yang demikian, tentunya kita sebagai santri harus berani mengatakan bahwa tesis itu salah. Dan kita harus membantahnya dengan membuktikan bahwa santri pun bisa berkarya lebih. Kedua, Hilangnya sarung baru, bukan karena hilng secara ghoib tentunya, tapi saya yakin ada seseorang yang mengambilnya. Ini artinya, kalau kita tafsirkan secara baik, bahwa ditengah0tengah harta kita ada hak kaum fakir, miskin, anak yatim dan piatu. Kita harus ingat bahwa harta dunia, taruhlah berupa tahta, sebenarnya hanya titipan Allah semata. Dan barang siapa ikhlaskan konsep dasar itu pasti Allah akan menggantinya.

Ketiga, mandat yang diberikan pengasuh pesantern Al Furqon (K. D. Dalwanuddin) kepadanya, saya lihat sebagai inovasi atau bahkan tawaran perubahan dari sang pengasuh atas budaya peralihan kyai dari anak dan keturunannya. Atau dengan kata lain bentuk pemberdayaan pada masyarakat yang punya potensi untuk menjadi kyai. Sebagai status sosial, siapapun boleh menjadi kyai. (adlan)

0 Responses to “Terjegal Jadi Calon Lurah Kembaran”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: