Sang Bilal Itu Mengadu Nasib

Sang bilal itu kini berada di Bogor. Ia menemui saudaranya di yang kebetulan berhasil menjadi bagian developper (pengembang). Dengan tekad yang agak nekad, ia memberanikan diri untuk mengadu nasib dengan cara bergabung dengan sang developper tadi.

Ia akrab dengan panggilan Sam. Sejak kecil ia menempa dirinya belajar mengaji di Mushola Al Furqon yang diasuh oleh pak dhenya. Ia tamat SMK 3 Kebumen sekitar 7 tahun yang lalu. Dalam perjalanan hidupnya ia pernah mengadu nasib merantau ke jakarta. Tapi sayang kala itu dewi fortuna belum menyapanya. Sehingga ia kembali bergabung dengan masyarakat Kembaran.

Pada masa-masa itulah ia dipercaya menjadi bilal pada bulan-bulan ramadhan. Acap kali sholat tarawih tiba, dirinya selalu berada didepan, di belakang imam. Dengan suara yang lantang bak bilal dari timur tengah ia menggugah nurani setiap jamaah untuk bangkit dan khusuk dalam sholat tarawih.

Beberapa hari lalu ia pamit untuk mengadu nasib lagi ke kota besar tersebut. Ia kembali meninggalkan desa dengan segenggam harapan kelak hidupnya akan berubah. secara ekonomi ataupun dewasa dalam mengarungi hidup yang kian tak menentu.

Apa yang ia lakukan sebenarnya merupakan pemberontakan pada sistem kehidupan berbangsa dan bernegara yang tidak adil pada masyarakat desa. Lapangan kerja di kota yang melimpah merayu warga desa untuk berbondong-bondong merantau. Meski melimpah, tapi sistem kerja yang tidak adil tetap menempatkan wong desa sebagai scond class. Ia tetap dipandang sebelah mata, karena orang kota kadung menmpelkan stempel kalau wong desa berSDM rendah.

Apa yang Sam lakukan adalah satu dari ribuan gambar yang terpantul dari cermin kehidupan. Tidak hanya dia yang berjuang menmgadu nasib. Kalau dihitung-hitung mungkin hampir 500 warga Kembaran yang pergi merantau. Jakarta, Pemanukan, Bandung, Bogor,Banten, Bekasi, tangerang, Jogja, sampai Brunai Darussalam dan Malaysia menjadi daerah-daerah yang dipandang paling berpotensi memberi sandaran ekonomi.

Apa yang Sam lakukan tidak lain tergolong tindakan mulia. Ia tidak lagi mempedulikan uluran tangan negara yang telah berjanji kepada rakyatnya -dalam UUD 45- untuk mensejahterakan. Kalau kita lihat implementasi amanat UUD 45 tersebut di tingkat desa masih minim. Pada tingkatan yang lebih tinggi, kabupaten Kebumen belum memberikan jaminan sosial pada warga golongan ekonomi lemah. Ia telah dibohongin negara. Pendidikan yang dikenyamnya selama kurang lebih 16 tahun tidak memberi jaminan kehidupannya dimasa yang akan datang.

Mengamati praktek pembangunan yang dijalankan pemerintah desa Kembaran masih sangat kental pembangunan yang menitikberatkan pada pembangunan infrastruktur semata. dana-dana bantuan yang terplotting melalui program-program PPK dan PKMD, sebagai dua program terakhir ini yang masuk, juga banyak dialirkan pada pembanguna irigasi dan pengaspalan jalan. (adlan)

0 Responses to “Sang Bilal Itu Mengadu Nasib”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: