Haruskah Aku Nggak Sekolah?

Oleh : Adlan Kurniawan

Sebutlah Ami. Ia adalah anak pasangan mas Pardi dan Mba Ikoh. Pasangan suami istri tersebut sebenarnya mengasuh anak dari Mas Kacung yang tidak lain adalah kakak kandung mba Ikoh. Mas Kacung sudah lama merantau ke negeri Jiran Malaisya. Sekarang ia sudah menjadi warga negara tersebut. Sebutan Kacung merupakan nama yang sudah akrab dengan masyarakat desa Kembaran. Meski sudah menjadi warga negara Malaisya, nama itu sulit terlupakan dari ruang ingatan warga Kembaran.

Ami sekarang menginjak umur 7 tahun. Umur yang mengharuskan ia bersekolah tingkat dasar. Sayangnya, sepertinya anak ini mendapatkan kendala. Terkait dengan status kewarganegaraannya yang belum tuntas, menghambatnya mendaftar menjadi murid SDN Kembaran. Dan mungkin sekolah dasar lainnya.

Sebenarnya orang tua angkatnya ingin sekali si Ami bisa bersekolah. Tapi sang ayah di Malaisya tidak memberi keterangan bahwa ia warga Indonesia. Menurut Pak Lurah, Miftahudin Ahmad, pihaknya telah menyarakan pada mba Ikoh agar segera minta surat keterangan kelahiran di Indonesia pada mas Kacung. Surat ini dimaksudkan agar memudahkan kades untuk membuat akta kelahiran. Namun si ayah kandung malah memberikan semacam surat keterangan asuh anaknya yang diserahkan pada adiknya.

Dari gambaran problematika yang terjadi di salah satu rumah tangga di desa kembaran muncul beberapa persoalan. Persoalan ini tentu bisa menjadi leason learned yang baik. Pertama, belum dianugerahinya pasangan mba Ikoh dan mas Pardi menumbuhkan kerinduan akan kehadiran anak dalam dekap hangat mereka. Dorongan inilah mungkin yang mengantarkan mereka pada keputusan untuk mengangkat anak. Kedua, hak anak untuk mendapatkan layanan dasar (pendidikan) terhambat. Problem status kewarganegaraan yang tak kunjung jelas mengancam pemenuhan hak anak tersebut. Haruskah ia tidak sekolah hanya karena ia warga negara Malaisya yang diasuh oleh warga Indonesia?

Bisa saja kita bicara ya pulangkan saja ke Tanah Airnya, agar bisa sekolah di Malaisya. Semudah itukah? Mba Ikoh dan Mas pardi tentu sangat berat kalau melepaskan Ami kembali ke negeri yang terkenal dengan produk sawit itu. Pun mungkin demikian dengan orang tuanya. Mas Kacung sebagai kakak dan sekaligus ayah Ami, mungkin ingin membahagiakan hati adiknya yang belum mendapatkan keturunan.

Problem ketiga yaitu tawaran kades yang akan membuatkan akta kelahiran sepanjang orang tua si anak di Malaisya mau membuat surat keterangan bahwa si anak lahir di Indonesia. Mungkinkah tindakan pak lurah secara hukum dibenarkan? Karena kalau itu dilakukan boleh jadi dikatakan sebagai tindak pemalsuan dokumen. Keempat, namun kalau dikaitkan dengan itikad baik, demi menyelamatkan potensi dan terpenuhinya hak dasar anak di bidang pendidikan, apa mungkin menggugurkan kaidah hukum tersebut? Wallahu’alam

Penulis adalah pemerhati dinamika sosial desa

0 Responses to “Haruskah Aku Nggak Sekolah?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: