Pemutusan Interaksi Sosial a la Mall

oleh : Adlan Kurniawan

Menyikapi pertumbuhan mall-mall di Kebumen, dalam banyak bentuk masyarakat sudah banyak angkat bicara. Berbagai media mereka gunakan. Mulai dari rasan-rasan dengan sesama warga sampai dipublish di media cetak dan elektronik. Sebagian besar statemen warga adalah menolak keberadaan mall-mall tersebut, dikarenakan dalam pandangan mereka mall-mall tersebut merugikan para pedagang kecil di pasar-pasar tradisional.

Di Kebumen ada beberapa nama mall yang sudah cukup akrab dengan telinga masyarakat. Sepertinya tidak kalah akrab dengan nama-nama warung, toko, kios dan pedagang di pasar tradisional. Diantara nama-nama mall tersebut yaitu; Indomart, Alfamart, Rita Pasaraya. Meski belum berpapan nama, di depan SMK Ma’arif tepatnya di Jl. Kusuma juga berdiri mall yang masih dalam proses finishing.

Ditilik dari pola transaksi di Mall, sebenarnya pola yang dipakai merusak tatanan komunikatif masyarakat yang selama ini berjalan elok. Kearifan tradisi yang kita miliki adalah budaya saling menghargai dan menghormati satu sama lain. pun demikian dalam dunia perdagangan di kenal dengan perilaku tawar menawar. Dalam bahasa jawa “nyang-nyangan”. Tradisi ini hanya akan kita dapatkan manakala kita berbelanja di pasar-pasar tradisional. Sementara di mall tidak berlaku interaksi demikian. Dalam sistem perdagangan yang diterapkan di mall dan supermarket (saudara kandung mall) tidak mengenal tawar menawar. Konsumen tidak diberikan keleuasaan hak untuk berpendapat atas harga yang ditawarkan.

Bagaikan terhipnotis, para konsumen atau pembeli di mall terkondisikan untuk diam seribu kata. Mereka dipaksa patuh membeli barang yang telah ditentukan oleh pihak pengelola mall. Bagaimana tidak, semua barang sudah dibandrol dengan harga-harga yang paten. Meski ada pemanis berupa discount, potongan harga, murah meriah, sampai berhadiah, harga barang-barang di mall tidak memberi kesempatan sedikitpun kepada konsumen untuk menawar.

Sistem interaksi yang demikian menutup komunikasi pembeli kepada pedagang. Di mall, para pembeli tidak tahu dan kenal siapa, dan dimana sih sebenarnya pedagangnya. Pembeli hanya diberi kesempatan tahu para pelayannya. Meskipun bertatap muka dengan pelayan, para pembeli tidak bisa berkenalan, bercanda ria, ngobrol se-enak di pasar tradisional. Hal tersebut dikarenakan para pelayan mall tidak ubahnya sebagai buruh yang dikendalikan dengan aturan kerja yang ketat. Bahkan bisa jadi dalam tingkatan tertentu mereka ter-robotkan karena sistem kerja yang diberlakukan. Kalau sudah demikian mall tidak memanusiakan pelayannya karena tidak memberikan kebebasan.

Di pasar tradisional kita masih bisa menanyakan harga, menawar harga, berkenalan, bercanda, dan berdiskusi. Bahkan bisa bersilaturahmi antar pedagang dengan pedagang, pembeli dengan pedagang atau pembeli dengan pembeli. Pola interaksi di pasar tradisional sebenarnya turut mendongkrak nilai-nilai solidaritas sosial dan komunikasi. Bisa jadi probelmatika sosial akan terpecahkan dalam pola interaksi di pasar tradisional tersebut. Pedagang memberi kelenturan harga. Pembeli menyambutnya dengan penawaran. Dan dari sinilah lahir kesepakatan harga. Inilah salah satu manifestasi musyawarah untuk mufakat. Dalam kajian agama sistem seperti ini mempererat tali silaturahmi.

Kebebasan bermain bagi anak a la Mall

Di depan atau disudut-sudut ruangan mall biasanya tersedia mainan anak-anak. Mandi bola, play station, odong-odong merupakan beberapa contoh variasi mainan yang ditawarkan kepada konsumen. Dengan penataan yang sedemikian rupa mainan tersebut dimaksudkan sebagai daya tarik pengunjung. Khususnya kalangan anak-anak.

Boleh jadi penyediaan fasilitas mainan anak dilandasi pemikiran yang demikian. Dalam kajian psikologi menjelaskan bahwa dunia anak identik dengan mainan. Nah, namanya anak biasanya akan diajak pergi orang tuanya. Atau sebaliknya anak akan mengajak orang tuanya pergi mencari mainan.

Mall menangkap budaya seperti ini sebagai peluang bagaimana penjualan meningkat dan laba semakin banyak. Maka dikomersilkanlah mainan. Setiap anak yang akan memakai fasilitas mainan harus membayar dengan harga yang telah ditentukan. Kalau di Kebumen tarif untuk naik odong-odong Rp. 500,-.

Apa yang terjadi kemudian saat anak-anak banyak yang tersedot ke dalam sistem komersil dunia anak? Mall telah mencerabut dunia anak dari akar sosial. Di kampung, kini tidak lagi kita dengar dan lihat canda dan tawa, rame riuh dan tangis anak-anak. Dulu juga kita kenal dengan istilah belajar kelompok. Tanah lapang di kampung biasanya tak luput sentuhan bermain anak-anak. Kemanakah mereka kini?

M all telah memprivatkan dunia anak untuk segepok modal. Anak-anak tidak lagi bisa menabung uang jajannya. Uang jajan yang sebenarnya sangat baik untuk di tabung demi masa depannya, harus beralih ke kasir mall. Kreatifitas anak dalam mengkreasi potensi sosial dan alam sekitar berganti dengan kreatifitas yang terhipnotis. Anak-anak dipaksa meniru tokoh-tokoh smack down yang terpajang di layar monitor televisi dalam ruang play station yang disediakan mall. Anak-anak kehilangan tokoh mereka sendiri. Anak-anak tidak tertuntun untuk mengetahui siapa sih sebenarnya dirinya. Bisa juga anak-anak tidak lagi men-tokoh-kan orang tuanya.

Dalam sorotan lain arsitektur mall yang meniadakan ruang untuk ibadah, utamanya bagi umat islam, sesungguhnya juga menjauhkan para pengunjung pada kewajiban mereka sebagai umat beragama. Kalau pasar tradisional masih menghargai hal tersebut. Mushola-mushola kecil di sudut-sudut ruangan pasti kita temukan. Lagi-lagi mushola di pasar juga mempunyai arti penting bagi para pengguna mushola. Yakni nilai interaksi komunikatif antar sesama.

3 Responses to “Pemutusan Interaksi Sosial a la Mall”


  1. 2 peti April 4, 2008 at 6:17 am

    Wake up man! Jangan bersikap reaktif gitu lah! Kalau apa-apa kita tentang, kapan kita maju. Ayo proaktif, sehingga bangsa kita tidak terbelakang. Kalau memang mall yang anda anggap menghilangkan budaya atau tradisi yang kita agungkan atau yang kita anggap perlu diteladani, kenapa tidak kita ciptakan mall seperti yang kita kehendaki!!

    Kita harus mengikuti arus kehidupan ini, jangan menentangnya kalau tidak ingin kita kehilangan tenaga dan nafas. Tapi jangan juga kita terbawa arus, OK!

  2. 3 hase April 17, 2009 at 2:43 am

    saya sepakat sekali dengan artikel kita ini.
    sangat menyedihkan memang jika hanya untuk mencari sesuap nasi para pedagang kita digusur secara perlahan2.
    sungguh malang.
    namun memang pemerintah kita tidak ada itikad baik untuk menyelesaikan masalah ini.
    kenapa masyarakat pada beralih ke mall boleh jadi karena pasar tradisional kita kurang nyaman.
    saya saat ini sedang melakukan penelitian tentang perbedaan interaksi di mall dibandingkan dengan di pasar tradisional.
    di kawasan beji kota depok.

    terimakasih atas artikelnya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: