Archive for February, 2007

Ibuku

Karya: Putri (santri AL Furqon)

Ibu

Setiap pagi kau bangunkan aku

Kau sediakan makan dan manumku

Baju yang bersih sudah menunggu

Dan senyummu selalu

Ibu

Kelak bila kujadi Ibu

Ku akan lakukan seperti Ibu

Mengerjakan segala sesuatu

Tuk kebahagiaan putra-putriku

Ibu

Tiada yang dapat kuberikan kepadamu

Tuk membalas budi baikmu

Kecuali satu

Baktiku padamu

Pantun

Karya : Desi (santri Al Furqon)

1. Jalan-jalan ke padang pasir

Jangan lupa membawa sisir

Kalau ada yang naksir

Jalannya cengar cengir

2. Ikan kecil beribu-ribu

Ikan besar ada di pasar

Masih kecil di sayang ibu

Udah besar di sayang pacar

Melatiku

Karya : Putri Ulfiana (santri Al Furqon, kelas IV SD Kembaran)
Matahari terik menyengatmu

Namun daunmu tetap rimbun

Hijaumu anggun

Batangmu yang berakar kuat

Mudah tumbuh di sembarang tempat

Tapi bungamu putih bersih

Semerbak harummu

Jadi dambaan setiap hati yang suci

Sang Bilal Itu Mengadu Nasib

Sang bilal itu kini berada di Bogor. Ia menemui saudaranya di yang kebetulan berhasil menjadi bagian developper (pengembang). Dengan tekad yang agak nekad, ia memberanikan diri untuk mengadu nasib dengan cara bergabung dengan sang developper tadi.

Ia akrab dengan panggilan Sam. Sejak kecil ia menempa dirinya belajar mengaji di Mushola Al Furqon yang diasuh oleh pak dhenya. Ia tamat SMK 3 Kebumen sekitar 7 tahun yang lalu. Dalam perjalanan hidupnya ia pernah mengadu nasib merantau ke jakarta. Tapi sayang kala itu dewi fortuna belum menyapanya. Sehingga ia kembali bergabung dengan masyarakat Kembaran.

Pada masa-masa itulah ia dipercaya menjadi bilal pada bulan-bulan ramadhan. Acap kali sholat tarawih tiba, dirinya selalu berada didepan, di belakang imam. Dengan suara yang lantang bak bilal dari timur tengah ia menggugah nurani setiap jamaah untuk bangkit dan khusuk dalam sholat tarawih.

Beberapa hari lalu ia pamit untuk mengadu nasib lagi ke kota besar tersebut. Ia kembali meninggalkan desa dengan segenggam harapan kelak hidupnya akan berubah. secara ekonomi ataupun dewasa dalam mengarungi hidup yang kian tak menentu.

Apa yang ia lakukan sebenarnya merupakan pemberontakan pada sistem kehidupan berbangsa dan bernegara yang tidak adil pada masyarakat desa. Lapangan kerja di kota yang melimpah merayu warga desa untuk berbondong-bondong merantau. Meski melimpah, tapi sistem kerja yang tidak adil tetap menempatkan wong desa sebagai scond class. Ia tetap dipandang sebelah mata, karena orang kota kadung menmpelkan stempel kalau wong desa berSDM rendah.

Apa yang Sam lakukan adalah satu dari ribuan gambar yang terpantul dari cermin kehidupan. Tidak hanya dia yang berjuang menmgadu nasib. Kalau dihitung-hitung mungkin hampir 500 warga Kembaran yang pergi merantau. Jakarta, Pemanukan, Bandung, Bogor,Banten, Bekasi, tangerang, Jogja, sampai Brunai Darussalam dan Malaysia menjadi daerah-daerah yang dipandang paling berpotensi memberi sandaran ekonomi.

Apa yang Sam lakukan tidak lain tergolong tindakan mulia. Ia tidak lagi mempedulikan uluran tangan negara yang telah berjanji kepada rakyatnya -dalam UUD 45- untuk mensejahterakan. Kalau kita lihat implementasi amanat UUD 45 tersebut di tingkat desa masih minim. Pada tingkatan yang lebih tinggi, kabupaten Kebumen belum memberikan jaminan sosial pada warga golongan ekonomi lemah. Ia telah dibohongin negara. Pendidikan yang dikenyamnya selama kurang lebih 16 tahun tidak memberi jaminan kehidupannya dimasa yang akan datang.

Mengamati praktek pembangunan yang dijalankan pemerintah desa Kembaran masih sangat kental pembangunan yang menitikberatkan pada pembangunan infrastruktur semata. dana-dana bantuan yang terplotting melalui program-program PPK dan PKMD, sebagai dua program terakhir ini yang masuk, juga banyak dialirkan pada pembanguna irigasi dan pengaspalan jalan. (adlan)

Belajar Kaligrafi

Belajar Kaligrafi kaligrafi merupakan salah satu identitas seni dalam dunia Islam. ia identik dengan lukisan atau gambar huruf-huruf arab yang indah. secara khusus biasanya kaligrafi bertuliskan ayat-ayat suci al Qur’an atau kata-kata mutiara yang diambil dari hadits nabi Muhammad.

menulis kaligrafi kini menjadi salah satu menu pelajaran di musholla Al furqon. malam kamis (21/2) dengan dipandu ustadzah Muslihah sebagai teman belajar, sekitar 15-an anak-anak usia 6-9 tahun belajar menulis indah kaligrafi. meski tanpa alas (tikar / karpet) mereka dengan tekun belajar corat-coret diatas kertas tulis yang mereka siapkan sebelum sholat maghrib. ada yang menulis sambil tidur, duduk kadang malah ada yang berlarian pinjam pensil dan kertas sana sini. ada yang nyontek. dengan kesederhanaan fasilitas senyum mereka tetap mengembang.
dengan metode sederhana sang ustadzah menuntun mereka dalam menggoreskan pensil. langkah paling dasar, para santri kecil tersebut diajari cara mengasah atau mempertajam pensil dengan cutter . ini penting karena kalau pensilnya majal hasil tulisannya kurang bagus.

yang namanya anak, tentu tidak bisa diterapkan cara mengajar pada orang dewasa. yang namanya anak, ada yang menggambar rumah, mulai menulis dari “alif” sampai “ya”, merangkainya menjadi sebuah kata dalam bahasa arab. inilah menarik, sang ustadzah tidak langsung mengajak anak-anak untuk menuliskan arab. menurut ustadzah yang biasa dipanggil dengan “mba likha” ini aspek yang paling menentukan adalah bagaimana meletakkan memori pada anak-anak. bagaimana memberikan kesan bahwa kaligrafi itu tidak sulit, indah dan bagian dari budaya Islam.(adlan)

Aku Tidak Tahu Kapan Engkau Datang

Sajak Rimba

Aku Tidak Tahu Kapan Engkau Datang

: A.Tohari

Karena waktu putaran roda kehidupan

maka tak tahu kapan engkau datang

ketika aku berkunjung kerumahmu

sambil membawa kecemasan para penyair

yang kupungut dari jalan-jalan menuju tempatmu

ketika kesunyian adalah waktu yang terindah maka setiap

kata-katamu adalah pepohonan hijau didepan rumahmu

kebumen, 2007

Dangir Kuburan

Kegiatan yang sudah menjadi kebiasaan suatu masyarakat atau adat istiadat memang sulit untuk dihilangkan, apalagi adat tersebut berada didaerah yang jauh dari informasi yang berkembang. maka adat tersebut akan menjadi rutinitas belaka tanpa adanya suatu perubahan yang membawa kepada kemajuan.
seperti halnya adat kerigan kuburan ( bersih kuburan ) yang diadakan setiap bulan syura, menjadi kegiatan yang wajib diikuti oleh warga desa saya. Dari pegawai, petani, tukang batu sampai polisipun ikut terjun kelapangan membersihkan kuburan para leluhur mereka. namun hari itu nampak berbeda. kegiatan kerigan itu diadakan pada hari sabtu. semalam hujan turun membuat tanah-tanah becek dan tergenang air. begitu juga dengan tanah pekuburan ikut becek dan beberapa bagian tergenang oleh air.

kang Darpo berangkat pagi-pagi bersama kang Surip dan beberapa temannya yang lain. mereka bekerja sebagai tukang batu yang sedang dikontrak salah seorang warga untuk membuat rumahnya. sebelum warga yang lain berdatangan mereka sudah membersihkan  kuburan leluhur atau saudara mereka masing-masing.

mereka membersihkan rumput ilalang yang meninggi satu. Bahkan ada yang sudah setinggi satu meter. Saat mereka membersihkan  kuburan terjadilah dialog antara kang Darpo dan kang Surip.

¨ Wah enak ya kang pagi-pagi kita sudah datang membersihkan kuburan¨. kata kang Darpo sambil mencabuti rumput kecil-kecil.

“Ya iyalah kalau ini sudah selesai kita kan bisa meneruskan pekerjaan kita membangun rumah yang baru sebagian kita kerjakan. Dan lagian lebih cepat kan lebih bagus¨. Jawab kang Surip sambil melihat kepada kang Darpo yang juga melihatnya.

¨ Tapi kang seharusnya desa itu juga harus pengertian dengan penetapan hari pelaksanaan kerigan ini. kalau menurut aku, lebih baik diadakan pas hari Minggu, biar semua warga bisa ikut terjun. kalau kaya hari ini kan hanya orang-orang yang tidak pergi kekantor saja yang kerigan¨.

¨ Betul itu kang, biar orang yang kerjanya dikantor juga bisa ikut. Dan juga anak-anak yang sekolah juga bisa ikut. kalau mereka (anak-anak)  ikut kerigan secara tidak langsung kita mengajarkan kepada anak-anak cara hidup sosial. kalau bukan mereka siapa lagi yang akan meneruskan kegiatan seperti ini¨. jelas kang Surip sambil menyeka keringatnya yang membasahi dahinya.

“Kita usulkan saja ke kepala desa kalau acara kerigan ini, setiap tahunnya diadakan setiap hari minggu. Toh tidak tepat dengan tanggal syura juga tidak berdosa kok. Dan yang lebih penting lagi biar warga masyarakat bisa ikut kegiatan ini¨.

Setelah selesai membersihkan kuburan keduanya segera pulang.  keduanya melewati gerbang utama pintu masuk areal kuburan. keduanya berpapasan dengan beberapa warga yang baru datang. warga yang baru datang terlihat bengong melompong. Mereka heran dengan kang Darpo dan kang Surip yang sudah pulang duluan. Kang Darpo dan Kang Surip hanya cengar cengir sambil berkata ¨ Makanya besok lagi kalau ngadain kerigan hari Minggu saja biar yang kerja kantoran juga bisa ikut. Saya juga orang kantoran tapi bukanya semau kita ha….ha…¨