Desa Kami Memang Kecil

Desa yang sejengkal tanah itu
Desa kami memang kecil. Disebut kota, kenyataannya sungguh-sungguh bernuansa kehidupan desa. Disebut desa, ada kehidupan yang ngotani. Anomali (baca; keanehan) ini memang akan pembaca temukan manakala singgah di desa kami. Ada orang menyebutnya dengan desa yang magel.

Tak jauh dari pusat kota, kira-kira tiga kilo dari Pasar Tumenggungan. Kalau diukur dari alun-alun Kebumen silakan tambah dua kilo. Itulah ukuran jarak desa kami pusat keramaian kota. Ukuran luasnya paling-paling dua kali luas alun-alun Kebumen. Menurut data resmi desa hanya 58 Ha. 58 Ha itu terdiri dari tanah sawah 49 Ha, tanah pekarangan 8 Ha, dan jalan, kuburan 1 Ha.

Meski demikian cacah jiwa yang hidup didalamnya cukup padat juga. Menurut Keputusan bupati No. 794 tahun 2001 tentang pedoman pelaksanaan penyusunan APBDes jumlah penduduknya 1479, 729 laki-laki dan 750 perempuan. Kalau dirinci, julah anak-anak antar umur 0-14 tahun sebanyak 490 jiwa, remaja umur 15-29 sebanyak 327 jiwa. Selebihnya orang dewasa dan orang tua.

Jumlah warga yang beragama Islam 1476 jiwa mempengaruhi pola interaksi sosialnya identik dengan tata kehidupan masyarakat tradisi Islam a la Indonesia. Tradisi-tradisi seperti yasin tahlil, muludan, rajaban, seni janeng, nelung dina, mitung dina, sampai 100 hari setelah kematian mmerupakan tradisi islam a al Indomesia yang masih hidup di desa ini. Untuk tradisi yasinan hampir seluruh lapisan masyarakat membuat kelompok yasin tahlil. Dari anak-anak, remaja dan orang tua (bapak-bapak dan ibu-ibu) punya kelompok yasin tahlil sendiri-sendiri dengan jadwal yang berbeda-beda. Tapi sebagian besar melakukannya pada malam jum’at. Seni Janeng yang tadinya seolah-olah menjadi trade mark kegiatannya kaum laki-laki, kini juga ada kelompok seni janeng ibu-ibu.

 

 

Ciri khas kehidupan Islam juga terlihat dengan adanya tiga tempat Ibadah. Masing-masing satu masjid dan dua mushola. Pada tahun 90an, di sebelah barat laut desa berdiri megah Al Amin, sebuah masjid di kompleks Islamic Centre. Di tempat-tempat ibadah tersebut warga desa menimba ilmu agama, pada kyai dan dibantu ustadz dan ustadzahnya.
Dalam himpitan identitas
Kembaran dulu dengan sekarang telah mengalami perubahan yang cukup signifikan. Seiring dengan laju pembangunan kabupaten yang meluas dan mengarah ke timur, desa Kembaran kini dikelilingi institusi-isntitusi penting. Institusi-isntitusi tersebut secara tidak langsung berpengaruh pada kehidupan sosialnya.

Berdirinya Islamic Centre pada awalnya menimbulkan ketegangan opini, khususnya dalam warga Kembaran sendiri. Mengapa harus dibangun berdampingan dengan desa kembaran yang sudah padat dengan tempat ibadah. Padahal masjid Al Amin secara geografis masuk wilayah Panjer. Sedangkan penduduk Panjer jauh dari masjid tersebut. Praktis pengunjung masjid tersebut sebagian besar adalah warga desa Kembaran. Maka tak heran kalau susunan takmir masjidnya juga banyak dari warga Kembaran.

Sekolah Menengah Kejuruan atau sering dikenal STM juga menjadi lembaga yang ikut memoles kehidupan desa. Tidak sedikit siswa dari sekolah tersebut nge-kost di rumah-rumah warga. Sebagian dari mereka juga mau mengaji pada kyai-kyai yang ada di desa tersebut. Bahkan sampai terbangun relasi sebagaimana hubungan anak dan orang tua, bagi mereka yang nge-kost dengan tuan rumah.

 

 

Kepolisian merupakan lembaga ketiga yang juga punya andil dalam pergeseran budaya masyarakat Kembaran. Contohnya kini banyak gadis-gadis dari desa tersebut yang dipersunting para abdi masyarakat dari lembaga tersebut. Ketentraman juga terasakan manakala polisi yang tinggal di desa juga berperilaku baik.
Kyai dan Mushola
Salah satu Kyai yang dulu menjadi tempat berguru yaitu K. Dalwanuddin (Alm). Kepindahanya dari desa Logede, kecamatan Pejagoan, pada tahun 1989 disambut hangat warga desa tersebut. Sambutan hangat tersebut waktu itu terlihat pada banyaknya santri yang ngaji dirumah beliau yang kala itu jendela-jendelanya masih ber-kaca-kan papan dan bilik, dinding-dindingnya belum juga di semen (baca jawa; dilepa).

Antusiasme mengaji dari anak-anak dan juga remaja Kembaran yang mengaji kepadanya, mengilhami sang kyai untuk mewakafkan sejengkal tanah disamping rumahnya kepada masyarakat untuk dibangun sebuah Mushola. Dengan dukungan penuh warga RT 01, akhirnya mushola bernama Al Furqon berdiri kurang lebih pada tahun 1992.

Sejak saat itu pengajian yang tadinya dipusatkan duruamh sang kyai dipindahkan ke mushola tersebut. Beraneka kegiatan pun berkembang atas dasar inisiatif santri-santrinya. Hampir setiap kepanitiaan kegiatan dimotori oleh anak-anak dan remaja mushola. Yang tak kalah menarik masyarakat setempat mendukungnya.

Usaha mengembangkan pengetahuan santri dilakukan dengan model pengajian, seperti sorogan dan jamaah pengajian (baca; klasikal). Sulamtaufiq, Safinatunnajah, Ta’alim Muta’alim, Jurumiyah, dan Ilmu tajwid merupakan beberapa contoh kitab yang diajarkan di mushola yang lebih akarab disebut pesantren itu. Kitab-kitab tersebut dikaji oleh kalangan santri remaja dan dewasa. Sementara untuk anak-anak, diajarkan membaca al Qur’an (dari Qiro’ati / Iqro’), dan tata cara sholat.

Dalam mengembangkan kapasitas intelektual santri, pesantren tersebut mengembangkan perpustakaan. Bermodalkan buku-buku milik pengasuh dan anak-anaknya pesantren membuat terobosan itu dengan tujuan kadar kelimuan kegamaan santri-santrinya kian terlengkapi dengan ilmu-ilmu lainnya seperti sosial, sains, filsafat dan juga politik.

Sebagai sarana melatih kepekaan dan kepedulian sosial sistem pengajaran dikembangkan dengan mengajak santri-santrinya melakukan bhakti sosial. Salah satu diantaranya bhakti sosial desa Suratrunan, kecamatan Alian. Para santri rela ngotel (menggayuh) sepeda ke desa sasaran. Seusai menyumbangkan plus kegiatan sosial, rombongan santri Al Furqon melanjutkan perjalanan ke obyek wisata pemandian air hangat Krakal.

Sepeninggal sang Kyai, memang terjadi penurunan aktifitas. Ditambah lagi anak-anak kyai banyak yang kuliah, menimba ilmu di lain daerah. Seiring perjalanan kegiatan yang kian surut, ternyata memberi inspirasi kembali bagi anak keturunan kyai, santri-santrinya dan masyarakat untuk mensiarkan fungsi pesantren tersebut. Salah satu ikhtiar yakni dengan menyelenggarakan lesehan 1 Muharram yang menghadirkan KH. Nasirudin Al Mansur dan Ahmad Tohari. Masing-masing adalah wakil bupati Kebumen dan Budayawan Nasional dari Purwokerto. Ageda tersebut diselenggarakan oleh Komunitas Matabaca Al Furqon, IPNU dan IPPNU Kembaran pada Selasa, 23 Januari 2007.

Semoga kegiatan lesehan budaya tersebut menjadi pemicu langkah agar Mushola tempat kami mengaji dulu benar-benar punya nilai manfaat bagi masyarakat sekitar. Kami meyakini bahwa keagungan sebuah tempat ibadah tidak hanya terletak pada ritualitas ibadah harian. Akan tetapi mushola juga harus berfungsi sosial. Kemiskinan, kemelaratan, korupsi dan ketidakadilan merupakan beberapa agenda sosial yang harus ditundukan.

 

 

2 Responses to “Desa Kami Memang Kecil”


  1. 1 johan December 26, 2007 at 4:30 am

    rumahq di krakal silahkan yang mau main


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: