Gadis Kecil dan Hujan

Oleh : Kanindita (Jamaah Musholla al-Furqon) 

“Hore..hore…, hujan turun.., hujan turun..” Gadis kecil itu melonjak-lonjak  kegirangan menyambut turun hujan yang sedari tadi dinantikannya. Dan, tiba-tiba gadis kecil itu telah berlari menuju halaman rumahnya, diputarnya tubuhnya ke kanan dan ke kiri mengikuti tarian hujan. Tangannya diangkat tinggi-tingi, seolah ingin meraup seisi langit. Mulutnya terbuka, menadah pada hujan, mengharap tetes hujan di mulutnya, dan benar saja tetes hujan sedikit demi sedikit  mulai memenuhi mulutnya dan, Glek, dirasakannya air hujan begitu nikmat membasahi kerongkongannya. Matanya nampak kemerah-merahan, namun gadis itu malah tertawa kegirangan.

Tiba-tiba dari pintu ruang tamu, muncul seorang perempuan muda dengan wajah penuh kekhawatiran, “Runi, cepat masuk jangan main hujan-hujanan, nanti badanmu sakit, ayuh cepat kesini”

Perempuan muda yang ternyata ibu gadis cilik itu berusaha menggapai tangan Aruni, namun Aruni tetap saja berputar-putar dibawah hujan yang semakin deras dan semakin menjauh dari gapaian tangan ibunya. Tak didengarnya lagi teriakan ibunya yang melarang gadis kecil itu bermain hujan.

”Runi, berhenti tidak nanti kalau sakit ibu tidak mau merawatmu ya” teriak ibunya pura-pura marah. Aruni tertawa-tawa kegiarangan, seolah mengejek ibunya yang semakin cemberut, “Ayuh, Bu, sini..sini, tangkap aku”. Tangannya melambai-lambai menggoda Ibunya, sementara gerakaan pinggangnya tak juga berhenti, bak penari dangdut yang biasa Ia lihat di TV. Tiba-tiba, blarr! Suara halilintar keras memecah hujan, anehnya sedikitpun Aruni tidak merasa takut, ia seolah tak mendengar apa-apa dan terus menari dan menari. Tentu saja ibunya semakin khawatir melihat putrinya. Tergesa diambilnya payung dari gudang belakang

“Aruni, Aruni, sini nak mendekat pada ibu” ibunya berlari-lari mendekati Aruni. Namun Aruni berlari menjauhi ibunya hingga terjadilah kejar-kejaran diantara mereka, tak beberapa lama berselang, tiba-tiba Lap! kilatan cahaya menyambar ujung payung  ibu, yang terbuat dari besi dalam hitungan detik tiba-tiba ibunya terjatuh dengan hampir sekujur tubuh, gosong. Sejenak kemudian, diam hanya suara rintik hujan yang seakan sedang berpesta setelah sekian bulan menunggu waktu. Aruni terdiam, kaku, ibu….

Gadis itu merunduk mencoba menyembunyikan kegalauan hatinya, diremasnya rok bermotif bunga-bunga, rok kesayangannya. Sesekali matanya menerawang, menatap sisa hujan yang membasahi pingiran jendela kamarnya. Hujan kali tidak berbeda dengan yang sudah-sudah, selalu meyisakan kenangan pahit, setidaknya bagi Aruni. Entah, dulu dia begitu mencintai hujan. Hujan seperti membawanya pada satu dunia yang hanya dirinya yang mampu merasakannya, tidak dengan Ibu yang selalu melarangnya bermain-main dengan hujan. Ibu begitu khawatir setiap kali melihatnya bermain-main dengan hujan, sepertinya hujan adalah Butho Ijo –cerita tentang makhluq jahat- yang selalu diulang-ulang Ibu, untuk meninabobokkan nya, yang harus selalu dijauhi. Sebaliknya Dia merasa bahwa hujan adalah sesuatu yang membuatnya mampu memasuki sebuah dunia tanpa sekat. Hujan mampu merubahnya dari gadis kecil yang yang pendiam dan pemalu, tiba-tiba bisa berubah menjadi gadis yang lincah, endel, menari-nari tanpa merasa malu dan bernyanyi sesuka hati.

“Ibu, ketahuilah, aku merasa senang sekali, biarkan aku bermain-main Ibu, tolong jangan ganggu aku” pintaku memelas setiap kali Ibu jengkel melihat kebiasaanku,

Namun Ibu tetap tidak mengizinkan aku untuk bermain hujan-hujanan, hingga setiap kali aku bermain hujan-hujanan bersama teman-temanku aku harus bersembunyi, dan ketika pulang ke rumah dengan pakaian basah ibu selalu datang sambil memarahiku, namun meski demikian aku tidak pernah merasa kapok, sebaliknya Ibu pun tidak pernah malaksanakan ancamannya

Namun, sejak peristiwa itu, aku begitu ketakutan setiap kali melihat hujan . Keindahan hujan seolah membangunkanku dari mimpi panjang bahwa ia telah merenggut orang yang kukasihi. Hujan yang ramah, tiba-tiba datang, seperti ingin membawaku pada dunianya, namun tiba-tiba terdengar suara sinis, mengejekku seperti pesakitan. “Anak durhaka, anak durhaka” mendadak air muncrat dari mana-mana, aku berlari  menghindari genangan air yang semakin deras, tiba-tiba kakiku terasa kaku untuk digerakkan aku tersungkur sementara air sudah samapai pada lutut, dada dan, ibu….

Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, sore itu Dia nampak tenang Matanya menerawang, memandang hujan yang tak kunjung reda. Secuil senyum nampak membayang dari garis bibirnya yang memucat. Sesuatu yang langka, setidaknya menurut Suster  yang merawatnya.

Aruni Malkia, Usia gadis itu, kurang lebih Empat Belas tahun, dan hampir enam tahun Dia menjadi penghuni Rumah Sakit Jiwa khusus anak-anak di kota Tangerang. (Bersambung)

0 Responses to “Gadis Kecil dan Hujan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: