Rindu Kebersamaan

Oleh : Rimba Palangka

Suasa masih nampak sepi, hanya beberapa anak-anak kecil yang mulai riuh dengan teriakan-teriakan mereka. Maklum mereka hanyalah anak kecil yang bisanya cuma tertawa dan menangis sesuka hati mereka. Sementara didepan Mushola, beberapa anak laki-laki usia SLTP duduk-duduk santai sambil bercanda ria. Betapa mereka menikmaati guyonan dan gelak tawanya. Mengenakan peci hitam dan sebuah sarung yang melingkar di leher, mereka menunggu kumandang adzan maghrib.

¨Nanti Shomad yang adzan lho.¨ Mad Jaiz meledek Shomad yang duduk di sebelahnya sambil memukul pundak Shomad.

¨He, kemarinkan aku sudah, sekarang jadwalnya Mad Thobii.¨ Mad Jaiz mencoba mengelak. Sementara teman-teman yang lainpun mencoba terus meledek Mad Jaiz.

¨Pokoknya aku nggak mau, sekarang harus Mad Thobii yang adzan¨.

Dari arah Timur nampak seorang bocah laki-laki dengan berpakaian rapi mlipis, dengan  sajadah di pundaknya berjalan penuh dengan mantap. Dadanya membusung kedepan. Langkahnya tegap menyambut waktu maghrib.

¨He…lihat itu Mad Thabii, cek…..cek..cek kaya kyiai saja dia.¨ Tiba-tiba Dul Karim mengagetkan Shomad dan teman-teman. Sepontan bola mata mereka langsung mengarah kepada Mad Thobii yang sudah berada beberapa meter dari arah mereka.

¨Assalamualaikuuum,¨ Mad Thobii menyapa temam-temannya, sembari menyalami mereka. Sayup-sayup dari arah kejauhan suara adzan terdengar oleh bocah-bocah itu. Mereka menunjuk Mad Thabii untuk segera adzan.

Kemudian Mad Thabii masuk kedalam Mushala dan memegang microfon. Dengan mantap dan percaya diri ia memulai adzannya. Namun ketika Dul Karim dan teman-temannya sedang menikmati suara itu terdengar ada suara yang mengganjal di telinga. Ternyata Mad Thabii tidak kuat dengan nafasnya, sehingga terdengar fales dan kalimat adzan sempat terpotong. Karena tidak kuat menahan tawanya, akhirnya Shomad, Dul Karim, Dul Khalik dan teman-temannya terpingkal-pingkal. Meledaklah suara mereka sehingga masuk sampai ke pengeras suara.

Begitulah anak-anak desa yang menjadikan mushala sebagai tempat berkumpul sambil menunggu maghrib dan saat mengaji sorogan kepada sang guru.

Itu adalah kisah masa lalu ketika penulis masih kecil. Bersama teman-teman, penulis sudah berebut menempatkan al-Qur´an , atau dulu kami menyebutnya  Gasang Quran, di meja yang biasa digunakan oleh sang guru mengajar kami, dengan tujuan agar kami bisa mengaji lebih awal. Karena setelah itu kami akan bermain petak umpet dihalaman mushala.

Banyak diantara teman-teman yang kesulitan membaca Al-Quran. Dan mereka pasti akan terkena jeweran sang Guru. Terkadang kami marah kepada sang Guru, tapi kami hanyalah seorang murid yang siap menerima hukuman jika kami salah. Apalagi kesalahan kami merupakan kesalahan yang sangat besar.

¨Ketika membaca Al-Quran, bila salah harokatnya berarti salah juga artinya, dan kita akan berdosa¨. Begitulah beberapa pesan dari sang guru kami yang selalu terngiang sampai saat ini.

Namun sekitar dua belas tahun kemudian atau saat berkelana dalam mengimajinasikan tulisan ini, penulis merasakan keadaan yang sangat berbeda ketimbang pada masa dulu. Kalau dulu kita berebut untuk saling mengaji duluan, kini berebut meninggalkan Mushala duluan setelah shalat. Dulu kita memperebutkan satu Microfon saat kita puji-pujian agar suara kita terdengar sampai ujung desa. Tapi kini mereka masuk Mushala akhir-akhiran supaya tidak disuruh untuk mengumandangkan adzan.

Dulunya mereka saling berebut bahkan ada yang sampai berantem gara-gara tidak kebagian al-Quran. Karena keterbatasan jumlah al-Quran dan beberapa kitab, terpaksa mereka harus mengantri dengan teman yang lain.

Berjalannya waktu yang semakin jauh, dunia pun semakin berubah. Dan orang-orang akan semakin mengikuti  kemajuan yang ada. Dan sekarang mungkin nyaris tidak terdengar suara anak-anak kecil mengaji.

¨Alif, Ba, Ta, Tsa sampai Ya¨ didalam Mushala, Masjid dan sebagainya. Atau suara anak-anak bermain petak umpet.

Kini semua itu berganti dengan malam yang sunyi  senyap, dan mereka mengisinya dengan sikap individu. Misalnya, kini melalui Televisi mereka menikmati berbagai tayangan yang  seharusnya belum saatnya mereka tonton.

Berbeda dengan dulu, ketika Televisi belum dikenal, antar individu  saling  mengenal karakter satu sama lain. Tanpa harus membedakan tingkat sosialnya. Orang tua mungkin paham akan dunia anak-anak. Mereka tidak mengenal akan kesusahan. Yang ada hanyalah keceriaan dalam menghadapi kehidupan tanpa adanya suatu beban yang bergelantungan diatas bahu mereka.

Yah, namanya juga anak-anak atau biasanya orang jawa mengatakan ¨kajenge lare!¨

Akannkan semua keceriaan dulu datang kembali? Pertanyaan ini tentunya harus kita jawab bersama.

Selamat untuk teman-teman dan masyarakat desa Kembaran.

2 Responses to “Rindu Kebersamaan”


  1. 1 jojo November 19, 2008 at 4:29 am

    kebersamaan itu sesuatu yang sulit dipahami tetapi berusaha dimengerti!

  2. 2 admin November 23, 2008 at 2:36 pm

    terimakasih mr.jojo yang sudah berkenan mampir. kebersamaan adalah memahami untuk saling mengerti


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: