Desa yang sejengkal tanah itu
Desa kami memang kecil. Disebut kota, kenyataannya sungguh-sungguh bernuansa kehidupan desa. Disebut desa, ada kehidupan yang ngotani. Anomali (baca; keanehan) ini memang akan pembaca temukan manakala singgah di desa kami. Ada orang menyebutnya dengan desa yang magel. Continue reading ‘Desa Kami Memang Kecil’
Dalam suasana malam yang berselimutkan hujan rintik-rintik, ratusan orang dari berbagai lapisan dan generasi memadati arena lesehan budaya. Mulai dari anak-anak hingga orang tua dengan sabar menunggu kehadiran nara sumber yang sbelumnya telah berjanji untuk hadir di tengah-tengah mereka.

“Itu gambar saya, ada dua,” kata salah satu anak melihat gambarnya terpampang di stus ini.
Panitia sedang membuat tulisan terbuat dari kertas yang digunting berbentuk huruf-huruf. Tulisan yang dibuat berbunyi: “Lesehan 1 Muharron “Membangun Masyarakat Cerdas Berbasis Desa dan Pesantren”; dan peluncuran website http://alfurqononline.wordpress.com; Kebumen, 23 Januar1 2007; Komunitas Mata Baca al-Furqon.” Rangkaian tulisan itu akan dipasang di background yang nanti malam akan dipasang di lokasi acara lesehan. 
Ketika tanah tergusur pendirian rumah,
Komunitas Mata Baca Al-Furqon akan mengadakan acara diskusi lesehan dalam rangka memperingati Tahun Baru Hijriah 1428. Lesehan dengan mengambil tema “Membangun Budaya Cerdas Berbasis Desa dan Pesantren”. Pembicara dalam sarasehan ini adalah Ahmad Tohari, budayawan asal Purwokerto, Jawa Tengah. Selain Ahmad Tohari, wakil bupati Kebumen, KH Nasiruddin Al-Mansur, juga akan hadir. Beliau akan menjadi panelis dalam diskusi tersebut. Lesehan tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 23 Januari 2006, atau 4 Muharram 1428. Acara lesehan tersebut akan dilaksanakan di utara Musholla Al-Furqon, pukul 20.00 sampai selesai. 








KOMENTAR